FF – Love High Kick! ( Sequel – Part.1 )

ff-LHK-Poster

FF – LOVE HIGH KICK (Sequel)

( Part. Satu )

 

Title : Love High Kick

Type : Sequel / Part

Author : Ulanchoi Hyoyoon / Twitter : @Lovelyulan

Genre : Romance,Comedy,Drama

Ratting : PG – 17 for Teens

Main Cast : 

  • Im Yoon Ah SNSD  as Im Yoon Ah /  Im Yoon wo
  • Choi Siwon SUJU as Siwon / Guru Choi
  • Max Changmin TVXQ  as  Shim Changmin
  • Cho Kyuhyun SUJU as Cho Kyuhyun
  • Lee Jong hyun CN.BLUE as Lee Jonghyun
  • Choi Minho SHINEE as Choi Minho

Other Cast :

  • Kim Taeyeon SNSD
  • Choi Sooyoung SNSD
  • Choi Jin Rin (Sulli ) F(x)
  • Kangin SUJU
  • Kim Hyoyeon SNSD
  • And many more…

Warning! : “ If You Don’t Like This Story, You Don’t Read and please Leave my Blog, and If You Like this Story You can Read and Please Leave a Comment and Give a Like sign…^^Remember!! You Do not Copy paste my Mind about This story..and This is just a Fanfiction,I’m So Sorry for Typo  in Story. So Enjoy to Reading…!!

~**~  LOVE HIGH KICK ~**~

 

“Aku bilang aku tidak mau kembali ke Korea hanya untuk menjadi pemain sepak bola. Aku bisa kuliah di universitas ku sekarang ini! Universitas biasa bukan akademik olahraga yang tidak aku minati sama sekali!!!” Tegas Yoon Wo, berbicara dengan nada suara yang keras dan tegas didepan ayahnya yang duduk berhadapan dengannya dimeja makan.

Yoon Ah hanya dapat diam saja sejak tadi menjadi penonton plus pendengar kembarannya beradu Argument dengan Ayahnya. Yoona melirik wajah ayahnya yang duduk disampingnya. Wajah ayahnya terlihat sangat tegang rahangnya mengeras. Dia sepertinya marah.

“Kau ini anak lelaki satu-satunya yang appa punya! Jika Yoon Ah lelaki, appa juga akan memaksanya untuk masuk akademik persepakbolaan Korea! Bagaimanapun kita ini warga Negara korea jadi buatlah Negara kita berharga walau sedikit.” Ucap Ayahnya.

Yoon Wo mendengus kesal seolah-olah ucapan ayahnya itu omong kosong. Dia benar-benar tidak tertarik mengabulkan keinginan ayahnya. Walaupun kata ayahnya ini adalah kesempatan emas dan sangat terhormat sekalipun. Dia tidak tertarik menjadi pemain sepak bola. Dia punya cita-cita sendiri yang ingin ia raih.

Jadi masalah dan perdebatan ini muncul karena dua hari lalu Ayah mereka menerima telepon dari Yonsai sport akademik, sekolah khusus untuk olahragawan yang nantinya akan menjadi pemain di Tim nasional Korea selatan. Mereka akan dididik dengan pembelajaran khusus seperti sebuah masa karangtina. Disekolah itu hanya untuk lelaki, karena mereka memfokuskan olahraga seperti sepak bola, Basket, Voli, dan bulu tangkis.

Si penelpon yang tak lain adalah presiden sekolah tersebut, memberikan sebuah Beasiswa kepada anak lelaki yang dimiliki Im Ji Yoon (Ayah Yoon Ah dan Yoon Wo) beasiswa seratus persen gratis biaya pendidikan selama dua tahun. Karena Ayah mereka dulunya adalah pelatih sepak bola National Korea selatan selama sepuluh tahun mengabdi. Dan akhirnya setelah pensiun dia dan keluarganya pergi ke Jerman dan membuka toko olahraga disana. Tapi sakarang mereka hanya tinggal bertiga karena tiga tahun lalu Ibu mereka meninggal dunia karena kecelakaan lalu lintas.

Karena Yoon Wo dan Yoon Ah anak kembar, tapi Hanya Yoon Wo putra yang ia miliki, maka beliau ingin sekali anaknya masuk dan menjadi pemain sepak bola tim nasional Korea selatan. Ini adalah kesempatan baik dan sangat terhormat. Dia ingin namanya selalu dikenang, walau lewat prantara, yaitu Yoon Wo.

Tapi sayang Yoon Wo memang tidak tertarik dengan dunia olahraga apapun. Beda dengan Yoon Ah yang pandai belari dan berenang. Seperti ibunya yang seorang mantan Atlet renang tahun delapan puluhan. Tapi Yoon Wo malah lebih tertarik dengan dunia hippop, dia pandai ngedance popping and blocking dance. Dan dia juga sudah menjadi angguta club dance di Jerman ini, maka dia jelas tidak rela dan tidak terima jika cita-citanya yang ingin menjadi penari terkenal dengan bayaran tinggi harus pupus dan berubah menjadi pemain sepak bola yang memperbutkan satu bola ditengah lapangan luar dengan banyak pemain dan membawa bola masuk kedalam gawang. Itu permainan yang sangat konyol baginya. Dia benar-benar kecewa dengan keinginan ayahnya.

“Pokoknya seminggu lagi kau tetap harus sekolah disana! Dan menerima pelatihan disana! Jangan memalukan nama ayahmu sebagai mantan pelatih sepak bola nasional korea selatan!” ucap Ayahnya dengan tegas dia tetap tidak mau kalah dari anaknya yang sama keras kepalanya.

Yoon Wo jadi semakin kesal. Dia menggebrak meja makan membuat piring dan gelas yang ada dimeja makan berdering dan bergoyang. “Aku ingin jadi Dancer!!” teriak Yoon Wo. Dan pergi begitu saja meninggalkan meja makan. Dia tidak mengabiskan makan malamnya. Dia sudah tidak nafsu sama sekali.

Ayahnya terdiam sambil memegangi dada kirinya dan wajahnya seperti menahan sakit. Yoon Ah yang melihatnya langsung panik. “Appa.. kau kenapa?”

Ayahnya mulai menggap-menggap dia susah bernapas sepertinya. “Ah.. Too..long.. ambil..Ob..bat Appah, dada Appa..sa..sa..kit..” ucap ayahnya terbata-bata dan sulit sekali, tenggorokannya seperti dicekik.

“Iya.. tunggu sebentar.” Yoon ah yang panik langsung berjalan mencari obat jantung ayahnya. Sejak empat tahun lalu ayahnya diponis mempunyai penyakit lemah jantung, dia tidak boleh tertlalu banyak pikiran, tidak boleh terlalu lelah dan tidak boleh terlalu terkejut. Dan akhir-akhir ini semuanya ayahnya alami karena keinginannya untuk YoonWo menjadi pesebak bola korea.

“Ini.. minumlah..” Yoon Ah balik lagi dan memberikan sebutir obat dan air mineral kepada ayahnya. Ayahnya langsung meminum obat itu.

“Istirahatlah dulu. Ayoo aku bantu, biar nanti aku coba bicarakan dengan Yoon Wo. Tentang masalah ini.” Yoon Ah mencoba menghibur ayahnya agar perasaan ayahnya membaik. Dia sangat menyayangi ayahnya. Dia tidak mau sampai kehilangan ayahnya setelah ibunya pergi meninggalkannya tiga tahun lalu.

Yoon Ah membantu ayahnya berdiri dan memapahnya untuk diantarkan ke kamar tidur ayahnya. Tapi baru bangun dari kursi ayah Yoon Ah roboh dan Yoona tidak kuat menanggung berat tubuh ayahnya dan mereka jatuh berdua dalam posisi duduk dilantai. Ayahnya memegangi dadanya sambil merintih kesakitan. Dan akhirnya pingsan begitu saja.

“Appa!!! Apaa!!! Irona!!! Irona!!” teriak Yoon Ah dia sangat panic, tiba-tiba ayahnya tak sadarkan diri.

“Yoon Wo oppa!! Yoon Wo oppa!!” teriak Yoona.meminta bantuan pada saudara kembarnya.

Yoon wo keluar dari kamarnya dan terkejut melihat Yoon Ah menangis dan ayahnya pingsan dipangkuan Yoon Ah. Dia langsung berlari untuk melihat keadaan ayahnya.

“Ini semua gara-gara oppa! Penyakit jantung Appa jadi kambuh!!” teriak Yoona sambil berurai air mata.

Yoon Wo hanya dapat terdiam dia tidak bisa membalasnya dengan perkataan apapun. Akhirnya Yoon Wo mencoba menggendong ayahnya dipunggungnya. “cepat ambil kunci mobil, kita kerumah sakit!” perintah Yoon Wo pada Yoona.

Dia berjalan deluan keluar rumah, Yoona segera mengambil kunci mobilnya dan menyusul Yoon Wo  yang sudah stand by didepan mobil sedan mereka.

~**~

Di pintu kedatangan luar negeri kelas bisnis bandara Incheon. Yoon Ah dan Yoon Wo terlihat keluar dari sana sambil menyeret koper mereka yang berukuran cukup besar. Akhirnya setelah perdebatan panjang dan karena penyakit sang ayah kambuh dan harus dirawat dirumah sakit selama tiga hari, Yoon Wo pun mengalah dan berkata ia siap untuk melanjutkan sekolahnya di Korea di sekolah Yonsai Sport akademik. Tapi dengan syarat Yoon Ah kembarannya harus ikut dirinya keKorea juga.

Yoon Ah jelas keberatan dengan  ide sang kakak atau kembarannya yang mengsangkutpautkan dirinya , kedalam masalah ini. Di Jerman ia sudah mengikuti seleksi perguruan tinggi yang ia inginkan, tinggal menunggu pengumuman saja. tapi karena sang ayah terlalu Ingin Yoon Wo menjadi pemain sepak bola national korea maka ayahnya pun memohon-mohon dan meyakinkan Yoon Ah agar ikut Yoon Wo ke korea.

Yoon Ah anak yang baik dan penurut sejak kecil beda dengan Yoon Wo yang pemberontak dan selalu beda jalan pikiran dengan kedua orang tuanya. Maka hal ini pun akhirnya membuat Yoon Ah menyerah atas keputusannya sendiri. Dia merelakan dirinya meninggalkan universitas yang ia idamankan di Jerman. Dan memilih ikut Yoon Wo ke Korea. Dia tidak ingin ayah satu-satunya terserang penyakit jantung lagi. Dokter sudah berpesannya untuk selalu membuat perasaan dan pikiran ayahnya senang dan tenang. Maka jangka kesehatan dan usia ayahnya dapat bertahan lama. Yoon Ah masih menginginkan ayahnya hidup lama dan tidak akan menyusul ibunya yang sudah meninggal.

Selama Yoon Wo sekolah dan diharuskan tinggal diasramah khusus. Yoon Ah diperintahkan ayahnya untuk tinggal dirumah bibiknya, adik dari Ayahnya yang tinggal di Seoul. Dan Ayahnya mengizinkan Yoon Ah untuk kerja sementara sebelum seleksi masuk universitas akan dimulai lagi tahun depan. Dan walaupun itu bukan sama sekali pilihan yang bagus untuk dirinya. Dia tidak berbakat untuk bekerja apapun. Dia saat dijerman lebih sering menghabiskan waktunya untuk berenang dan baca buku. Walaupun ayahnya mempunyai toko olahraga tapi ayahnya lebih suka membayar orang lain dari pada anaknya sendiri untuk membatunya ditoko.

“Kau tunggu disini sebentar.” Ucap Yoon Wo menghentikan langkahnya dan memberikan kopernya pada Yoon Ah.

“Oppa mau kemana?” tanya Yoon Ah.

“Aku ingin ketoilet sebentar. Aku sudah tidak tahan.” Tanpa menunggu reaksi dan jawaban dari Yoon Ah lagi, Yoon Wo langsung melangkah pergi meninggalkan Yoon Ah.

“Jangan lama-lama dan cepat kembali!!!” teriak Yoon Ah, Yoon Wo hanya melambaikan tangannya dan semakin mempercepat langkahnya.

 Satu jam berlalu, Yoon Ah sudah jenuh menunggu Yoon Wo yang pergi ketoilet dan belum balik-balik lagi menemuinya. Yoon Ah juga sudah berkali-kali duduk dikopernya dan berdiri lagi dari kopernya sambil melirik jam tangannya. Apa yang oppanya sedang lakukan sekarang? Kenapa dikamar kecil saja lama sekali?

Yoon Ah mengambil ponsel yang ada ditas kecilnya. Ia harus menghubungi Yoon Wo, mereka sudah sama-sama mengganti nomor mereka dengan operator seluler korea bukan jerman lagi. Agar komunikasi lebih mudah dan murah. Yoon Ah terkejut ketika melihat dilayar ponselnya terdapat  pesan baru yang yang belum dibaca oleh dirinya. Dari siapa? Dia jadi penasaran. Yoon Ah pun membukanya. SMS dari Yoon Wo?

Naega Dongsaeng Mianheyo.. oppa sudah putuskan, kalau oppa tetap harus mengejar impian oppa menjadi seorang pendancer, oppa akan mengikuti audisi dari setiap agensi entertainment yang mencari bakat seorang penari. Aku tidak akan mengikuti  ide konyol abeoji lagi. Jika kau tidak keberatan kau jangan mengadukan hal ini kepada abeoji. Aku tidak ingin penyakitnya kumat lagi. Dan  jika kau berbaik hati lagi. Kau bisa menggantikan posisi ku disekolah konyol itu?. mereka tidak akan menaruh curiga apapun jika kau menyamar menjadiku karena kita saudara kembar, aku sengaja meninggalkan koperku agar kau bisa memakai pakaian ku,jika kau mau. tapi kau bisa tinggal dirumah bibi jika tidak mau, dan tunggu sampai aku kembali, oke?. Dan satu hal lagi. Aku mengambil uangmu saat kau tidur dipesawat, aku pasti butuh banyak uang untuk bertahan hidup disini. Kau bisa menemui bibi dan meminta tunjangan hidup padanyakan? Salam manis dan sayang dari kakakmu tercinta.

Im Yoon Wo

Yoon Ah hampir saja membanting ponselnya karena terlalu terkejut membaca pesan singkat yang dikirimkan kakaknya itu. kakinya melamas sehingga ia langsung jatuh merosot kelantai. Dan menatap nanar pada kedua koper besar dihadapannya.

Lalu Yoona sadar akan satu hal, uangnya! Iya uangnya. Ia buru-buru mengecek tas kecil yang sejak tadi ia gantung dipundaknya. Ia mengambil dompetnya. Sial! Yoon Wo sungguh mengambil uang Wonya! Semuanya! Ia sekarang hanya memiliki uang seratus dolar didompetnya.keterlaluan.

Yoon Ah rasanya ingin sekali menangis. Dibandara sebesar ini ia hanya sendirian dengan dua koper besar dan  seratus dolar. Tidak ada yang ia kenal sama sekali orang-orang asing yang berlalu lalang didepannya. Karena dia sudah lama tinggal dijerman, jadi Negara kelahirannya jadi begitu asing sekarang. Yoon Ah mencekal kuat ponselnya. Ia ingin sekali mengadukan hal ini kepada ayahnya, tapi satu hal yang ia pikirkan. Jika ia tetap nekad mengadu pada ayahnya, ayahnya bisa shock dan terserang penyakit jantung lagi. Ia tidak mau hal itu terjadi. Jika kembali ke jerman dia tidak mempunyai uang untuk membeli tiket. Yoon ah mencoba menghubungi nomor ponsel Yoon Wo. Tapi sayang Yoon Wo sudah mematikan ponselnya. Atau mungkin dia sudah membuang nomornya.

Mata Yoon ah sudah memerah dan air mata mengembang dipelupuk matanya. Ia seperti anak kecil yang kehilangan ibunya dikeramaian pasar. Tidak tahu harus melakukan apa dan bagaimana. Yoon Ah masih punya pilihan lain. ia masih memegang alamat adik ayahnya yang tinggal di Seoul. Dia bisa menumpang disana segera. Yoon Ah menghentikan taksi yang lewat dihadapannya. Dan meminta supir taksi tersebut memasukan koper-kopernya kedalam bagasi. Dan ia menunjukan alamat yang ditulis ayahnya. Maka supir taksi langsung membawanya kesana.

~Braakkk…!!!~

Dengan kasar supir taksi itu melepar koper-koper milik Yoon Ah kejalan. Ia juga tidak henti-hentinya memaki Yoon Ah yang naik taksi miliknya tapi tidak punya uang. Padahal Yoon Ah sudah memberikan jam tangannya pada supir itu tapi dia tetap mengomeli Yoon Ah. Yoon Ah juga tidak tahu kalau ongkos taksi dari Bandara ke Seoul itu sangat mahal. Sedangkan uangnya hanya sisa seratus dolar. Dan supir taksi itu tidak menerima uang dolar katanya. Akhirnya ia tidak mengeluarkan uangnya tapi memberikan jam tangan GUCCi kesayangannya kepada supir tersebut agar bisa dijual dan dijadikan uang.

“Lain kali jika tak punya uang! Jangan naik taksi! Kau bisa naik subway aggassi!! Untungnya aku masih mengantarkan kau ketujuanmu!” ucap Si supir taksi.

“Jeongmal Mianhae…Mianhae…lagi pula dolarkan juga uang?” Yoon ah meminta maaf sambil menundukan kepalanya berulang-ulang.

Supir taksi itu tidak mempedulikannya dan langsung masuk kedalam taksinya dan menggas pergi taksinya dari hadapan Yoon Ah. Yoon Ah menghembuskan nafasnya. Huft.. nasibnya sungguh sial. Dan ini semua tentu karena si Yoon Wo! Yoon Wo! Jika kau sampai bertemu denganku nanti. Aku tidak akan mengampunimu! Tekadnya dalam hati.

Yoon Ah mengecek alamat yang ada dikertas dengan alamat yang ada di dinding rumah depan ia berdiri. Sama semuanya tertulis sama. Syukurlah setidaknya supir taksi itu tidak menurunkannya dijalan yang tidak ia tahu. Yoon Ah menekan tombol intercom rumah tersebut. Tidak ada yang respon. Ia menekan sekali lagi. Dan akhirnya terdengar suara laki-laki dari lobang intercom.

“Nuguya?” tanya lelaki itu.

Yoona mendekatkan wajahnya kekamera kecil intercom. “ini Im Yoon Ah dari Jerman anak dari Im ji yoon, ini benarkan rumah bibik Im Sung mi?”

“Im Yoon Ah? Rumah bibik Im Sung mi?” suara lelaki dipengeras suara itu seperti bingung.

“Iya.. rumah bibiku. Aku keponakannya. Aku baru tiba dari Jerman!” Jelas Yoona lagi. “Bisa kau bukakan pintu untukku?”

“Tapi disini bukan rumah Im Sung Mi.” Kata lelaki itu dengan jelas dan tegas.

Yoon ah terdiam. Dia mencoba mengecek lagi kertas dan tulisan ditembok tersebut. Benar tidak ada yang salah. “kau siapa? Ini benar rumah bibikku! Ayahku tidak mungkin memberikan alamat yang salah.” Protes Yoona mengeraskan suaranya pada lobang intercom.

“Aigoo… penipu jaman sekarang memang lebih galak. Ini jelas-jelas bukan rumah yang kau maksud! Ini rumah ku! Aku baru menempatinya sebulan yang lalu!”

“sebulan yang lalu?” ulang Yoon Ah. Apakah bibiknya sudah pindah rumah? Dan menjual rumahnya pada lelaki ini? “apa kau tahu pemilik rumah sebelumnya kemana?”

“kenapa aku harus tahu? Aku membeli rumah ini sangat mahal. Jadi aku tidak memperdulikan pemiliknya siapa dan pergi kemana! Sudahlah sebaikknya kau menjauh dan pergi dari depan rumahku sekarang juga!” ucap lelaki itu dengan suara tegas.

Bipp…

Intercom telah diputuskan begitu saja.Yoon Ah mendesah kecewa. “Sombong sekali orang itu!”

Jadi bibiknya benar-benar tidak tinggal disini. Lalu sekarang ia harus kemana? Dia sudah tidak punya tujuan lagi. Yoon Ah menjauh kan dirinya dari rumah itu. dia mengambil koper-kopernya yang masih berserakan dijalan. Dengan setetes air mata ia berjalan menyeret kedua kopernya. Dengan harapan dan tujuan yang tidak jelas sama sekali. Ia bagai tinggal di mars. Sambil berjalan Yoon Ah tak henti-hentinya menangis. Berharap ada orang baik hati akan menanyakannya dan menolongnya dan mencarikannya tempat tinggal.

Tapi  nampaknya itu tidak akan pernah terjadi. Melihat tubuh Yoona yang cukup besar. Mereka pasti berpikiran kalau Yoon Ah punya masalah pribadi dan bisa membereskannya sendiri karena ia sudah cukup dewasa. Mereka cenderung tidak mengikut campuri urusan orang lain.

~**~

Setelah semalam ia bermalam di tempat pemandian umum Jilbang, dia akhirnya sudah memutuskan! Ini adalah pilihan terakhir ia bisa benar-benar bertahan di Korea. Walaupun pilihan ini bukan sebuah pilihan yang bagus tapi ia memang tidak mempunyai pilihan lain selain hal konyol ini. Benar. Dia harus bertahan hidup lebih lama di Korea sampai Yoon Wo kembali. Maka ia harus hidup dengan baik. bukan terlantar ditempat pemandian umum selamanya.

Ia sudah menitipkan koper dan pakaian miliknya di loker pemandian umum tersebut dengan memberikan uang lima ratus wonnya dari hasil uang dolar yang telah ia tukarkan di money changer. Tadi pagi ia juga sudah menjual beberapa paiannya di pasar lowak yang ada di myeongdong. Jadi ia mendapatkan uang cukup untuk melakukan hal lainnya. Dan siang ini Yoon ah berdiri di depan salon sambil membawa sebuah koper pakaian milik Yoon Wo. Dia juga sudah memakai kemeja dan celana jeans milik Yoon Wo. Yoon Ah menarik napas dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Dia memutuskan akan memotong rambut panjangnya menjadi potongan rambut Yoon Wo. Dia mengambil pilihan terakhir yang pernah ditawarkan Yoon Wo melalui pesannya. Yaitu menggatikan peran Yoon Wo disekolah tersebut.

Tentu Yoon Ah akhirnya mengambil jalan ini bukan karena ingin menolong Yoon Wo. Tapi dia lebih ingin menolong hidupnya sendiri. Dia perlu tempat tinggal dan makan. Jika ia tinggal diasramah itu ia bisa tidur dan makan dengan gratis karena semuanya sudah ditanggung beasiswa. Dan lagi dia tidak perlu membuat ayahnya khawatir padanya. Dan semuanya akan baik-baik saja.

Semuanya akan baik-baik saja? omong kosong macam apa itu? baru rambut panjangnya berubah pendek percis seperti rambut Yoon Wo yang ada diphoto dompetnya saja dia sudah menangis menderu-deru sampai seorang chapster salonnya kebingungan. Apakah mereka telah melakukan kesalahan? Yoon ah terus menangis sambil menatap dirinya didepan kaca. Kenapa dia benar-benar mirip dengan Yoon Wo? Orang yang tak mengenal dirinya sebelumnya tentu akan percaya. Karena dia dan Yoon Wo benar-benar sangat mirip. Dia sedikit menyesal telah dilahirkan kembar dengan orang seperti Yoon Wo. Yoon Ah menatap dirinya sekali lagi didepan cermin. Seperti ada yang kurang. Apa ya? Dia menghentikan tangisannya. Dan menatap dirinya dengan sangat teliti. Astaga! Dadanya! Dadanya! Dadanya beda dengan milik Yoon Wo yang datar.

“Eonni..apakah kau tahu bagaimana cara menyembunyikan buah dada?” tanya Yoon Ah membuat pelayan salon itu terkejut.

“Mwo? Apa yang kau akan lakukan memangnya?” tanyanya dengan penuh curiga. Sejak memotong rambut Yoon Ah dia sudah curiga dengan Yoon Ah, dan sekarang kecurigaannya bertambah karena gadis ini meminta cara untuk menyembunyikan payudara, benar-benar gadis aneh.

“Ini memang terdengar sangat konyol.  Tapi ini demi hidupku! Kau harus membantuku eonni. Harus!” rengek Yoona. Sambil menarik lengan chapster tersebut.

“Tunggu sebentar.” Sebelum pelayan salon itu pergi ia memandang Yoon Ah dengan pandangan aneh.

Tak lama ia kembali lagi sambil membawa sebuah kemben karet, seperti korset untuk ibu melahirkan. “Kau bisa membalut buah dada mu dengan kain ini. Maka ia bisa sedikit disembunyikan. Tapi tunggu dulu, kau tidak sedang berniat bertransgander kan?”

Yoon Ah mengambilnya. Lalu memandangi kain itu dengan nanar. Baik dia harus mencobanya. “Tentu saja tidak, ini hanya sebuah penyamaran sesaat untuk menolong hidupku.” Jawab Yoona.

Yoon Ah langsung melesat ke toilet dan melepas bajunya dan branya. Dia harus menutup perbedaan dirinya dengan Yoon Wo. Yoona engap-engapan karena kain yang melilit dadanya membuat ia sedikit sulit bernapas. Itu karena dia belum terbiasa. Yoon Ah berpegangan pada pintu. Rasanya ingin pingsan. Benar-benar sesak. Ia menatap dirinya lagi, sukses buah dadanya rata. Dan terkesan ia memiliki otot dada yang kuat. Lagi pula buah dadanya tidak terlalu besar jadi gampang disembunyikan.

Dan sekarang dia benar-benar mirip dengan Yoon Wo. dari wajah, gaya rambut, postur tubuh, cara berpakaian semuanya sudah mirip Yoon Wo. Lagi-lagi Yoon Ah geli melihat dirinya sendiri didepan cermin. Dia jadi terlihat seperti flower Boy. Lalaki tampan yang manis. Flower Boy dancer Yoon Wo, Menjijikan. Ia lebih suka menjadi dirinya sendiri sebagai seorang perempuan. Tapi demi bertahan di korea dan menjaga kesehatan ayahnya ia harus bisa melakukan semua ini.

~***~

Yoon Ah mendorong kopernya melintasi halaman lapangan Yonsai sport Akademik yang sangat luas. Yoon Ah mengedarkan pandangannya kesekelilingnya. Penuh dengan para anak lelaki. Mungkin kalau ia masuk menjadi Yoon Ah mereka semua langsung menaruh perhatian padanya. Tapi sayang sekarang statusnya adalah Yoon Wo. Maka mereka semua mencuekan Yoon Ah yang lewat begitu saja didepan mereka. Mereka hanya melihat sekilas Yoo Ah dalam sosok Yoon Wo sekilas setelah itu berlalu tanpa peduli walaupun wajah Yoon Ah asing bagi mereka.

Yoon Ah kebingungan mencari ruang guru. Dia harus melaporkan diri terlebih dahulu. Semua data diri Yoon Wo ada pada dirinya. Karena Yoon Wo tidak membawanya saat kabur. Yoon Ah celingukkan lagi. Siapa yang harus dia tanyai? Mereka semua terlihat masa bodo dengan kehadiran Yoon Ah yang menjadi Yoon Wo. Mereka hanya berbisik-bisik tidak jelas saat melihat sosok Yoon Ah yang menyamar sebagai Yoon Wo.

Yoon Ah tersenyum cerah melihat empat lelaki yang sedang duduk berbaris di anak tangga memandang kearah dirinya. Yoon Ah menyeret kopernya mendekati empat lelaki tersebut.

Keempat lelaki itu menghampiri Yoon Ah. Mereka membuat lingkaran kecil mengelilingi Yoon Ah. Yoon Ah jadi sedikit takut di kepung dengan empat lelaki yang bertubuh jangkung ini. Tapi dia harus tenang, sekarang statusnyakan bukan Yoon Ah, tapi Yoon Wo. Yoon Wo juga lelaki, jadi ia tidak boleh takut. Dia harus tetap kuat dan bertahan hidup. Iya demi hidupnya.

Ke Empat lelaki yang mengelilingi Yoon Ah adalah KYU LINE gank terkenal dari akademik Soccer mereka berempat terdiri dari Kyuhyun, Changmin, Jonghyun dan Minho. Mereka berempat memiliki nilai Plus yaitu Wajah tampan, postur tubuh bagus, permainan bola bagus, berasal dari keluarga kaya, punya Fans wanita terbanyak. Tapi sayang mereka ini senang sekali berbuat ulah. Mereka selalu hidup seperti diatas awan. Sombong belagu dan suka menindas orang lain.

“Annyeong..” ucap Yoon Ah dengan suara yang sedikit ia basskan agar mereka berempat tidak curiga. Oh, iya masalah lain, dia memiliki suara yang berbeda dengan Yoon Wo. Suaranya lebih nyaring sedangkan Yoon Wo lebih berat dan besar.

Ke empat lelaki itu tidak menjawab sapaan Yoon Ah dia hanya memandang sosok Yoon Ah dengan tatapan meremehkan ataupun tanpa espresi. Tentu saja mereka tahu kalau wajah Yoon Ah asing disini. Jadi bisa saja Yoon Ah menjadi santapan bulan-bulanan mereka berikutnya.

“Aku Yoon Wo. Murid baru disini. Bisakah kalian tunjukan ruang guru padaku?” tanya Yoon Ah.

Seseorang dari mereka berdiri dan berhadapan dengan Yoon Ah. Changmin dengan smirk dibibirnya dan tatapan mata tajamnya menghujam Yoon Ah, Membuat Yoon Ah sedikit takut dan was-was. Maka ia memundurkan langkahnya sedikit. “Kau tidak tahu siapa kami?” tanyanya Pada Yoon Ah.

Yoon Ah menggelengkan kepalanya dengan polos. Dia memang tidak tahu siapa empat lelaki dihadapannya kini. Dia kan baru masuk jadi mana tahu, bodoh sekali. Tapi kalau dilihat-lihat empat lelaki ini cukup mengerikan karena mengelilinginya seperti ini.

“Astaga! Kenapa kau pendek sekali? Tinggimu hanya sebahuku! Ck..ck..ck..” ledek Kyuhyun sambil tertawa.

Yoon Ah memang hanya memiliki tinggi 170cm tapi bukan berarti ia terbilang pendek, mereka berempat saja yang terlalu tinggi! Dan Harus Yoon Ah akui, tentang penilaiannya sebagai seorang perempuan tentang empat lelaki dihadapannya ini. Mereka semua memiliki wajahn lelaki dengan kelebihan tampan. Memeliki postur tubuh yang tinggi dan kekar. Kulit yang bagus juga. dan gaya rambut yang oke juga. tapi sayangnya sekarang Yoon Ah adalah Yoon Wo. Jadi dia tidak perlu tertarik sama sekali dengan empat lelaki yang sekarang sedang mengelilinginya itu. jika ia tertarik maka hancurlah penyamaran dirinya yang akan menolong hidupnya di korea.

“Kau pindahan dari mana?” tanya Jonghyun. Hanya dia yang menatap Yoon Ah dengan pandangan tanpa Ekspresi. Wajah dan tatapan matanya begitu datar.

“Aku dari Jerman.” Jawab Yoon Ah sambil tersenyum. Karena dari empat lelaki ini hanya Jonghyun yang menatap dirinya dengan pandangan yang tidak menakutkan baginya.

“Jerman?!” seru mereka. “Jadi kau yang bernama Yoon Wo anak dari mantan pelatih timnas korea selatan?” tanya Minho dengan muka sinis dan tertawa sinis juga.

“Aku penasaran sekali, permainanmu sejago apa sih? Sampai mendapat penghormatan sekolah disini dengan beasiswa?” sindiri Kyuhyun. Sejak kabar yang beredar kalau akan ada murid baru dalam kelas soccer yang bernama Yoon Wo anak dari mantan pelatih timnas Sepak bola korea. Dia merasa terancam dan tidak suka.

“Aku tidak jago. Aku justru tidak tertarik dengan olahraga sepak bola. Tapi aku akan mencobanya. Mungkin aku bisa lebih jago dari murid lainnya.” Jawab Yoona setengah jujur setengah omong besar. Entahlah kenapa ia bisa berbicara seperti itu. membuat lelaki didepannya menjadi geram.

“Ommo!! Ommo!!” Seru Changmin sambil bertepuk tangan. “jangan terlalu percaya diri!” tambahnya sambil menepuk bahu Yoon Ah. Yoon Ah sampai terdorong kedepan, karena tepukan changmin dibahunya terlalu kuat. Untung saja ada Jonghyun yang menahan tangannya. Dan langsung melepasnya.

“Kau ini pria atau wanita sih? Begitu saja, lemah sekali! Benar-benar. Payah!” cetus Minho.

Yoon Ah menatap Minho dengan pandangan tidak suka. Dasar menyebalkan. Memangnya kalau aku wanita kenapa?

“Hei Apa yang sedang kalian lakukan disini?”

Mereka berlima menoleh kesumber suara. Seorang lelaki setengah baya bertubuh besar dan gagah memekai stelan jas berwarna hitam berdiri dipagar tangga. Para Kyu Line langsung minggir dan tidak lagi mengelilingi Yoon Ah.

Lelaki itu tersenyum memandang Yoon Ah. Yang masih nampak bingung. Lelaki itu berjalan dan langsung memeluk Yoon Ah sambil menepuk bahunya dengan keras. Yoon Ah tersentak. Ia merasa risih dipeluk oleh pria asing, walaupun usia pria ini mungkin seumuran dengan ayahnya. Tapi tetap saja pria ini masih asing dengannya. Dan tepukan tangannya di bahu Yoona sedikit menyakitkan. Apakah selalu seperti ini para lelaki mengakrabkan diri? Dengan menepuk bahu? Astaga. Kalau ini sering dilakukan terhadap Yoon Ah yang seorang wanita, dia bisa terkena rapuh tulang punggung.

“Kau pasti Im Yoon Wo kan? Senang sekali kau akhirnya datang kekorea dan masuk ke akademik soccer.” Ucap lelaki itu begitu ia melepas pelukannya.

“Iya..tapi aku, benar-benar belum punya kemampuan apapun dalam sepak bola, jadi aku mohon bimbingannya.” Ucap Yoon Ah sambil menundukan kepalanya.

“Tidak apa-apa, oh, iya kenalkan Aku Kim Kangin. Aku adalah ketua bagian akademik Soccer. Jadi aku yang akan mengurus dan mengatur kehidupanmu disini.” Ucap Pria itu dengan ramah.

Yoon Ah jadi ikut tersenyum. Setidaknya ia menemukan orang baik satu disini. Yang begitu antusias dengan kedatangannya di sekolah ini.

“Kalian berempat! Bisakah sehari saja tidak membuat masalah? hah. Jika permainan kalian tidak jago di lapangan hijau, sudah aku tendang bokong kalian!” ucap Kangin dengan tegas.

Ke empat lelaki itu nampak tidak mendengarkan sama sekali. Mereka malah mendengus seperti anjing.

“Ouh Yoon Wo, kau sudah mengenal mereka?” tanya kangin.

Yoon Ah menggelengkan kepalanya. Bagaimana mau kenal orang tadi dia hampir di bully.

“Ini Kyuhyun, ini Changmin, ini Minho dan ini Jonghyun. Mereka akan menjadi teman satu tim dengan mu!” jelas kangin memperkenalkan KyuLine satu persatu pada Yoon Ah.

“Kembalilah ke Asramah. Jangan berkeliaran menggangu yang lain.”

Ke empat kyuline pergi tanpa berkata apa-apa lagi membuat kangin menggelengkan kepalanya melihat tingkah keempat anak kebanggaannya itu. memang benar didunia ini tidak ada manusia yang sempurna.

“Kau baik-baik sajakan? Mereka memang seperti itu. mereka menamai diri mereka Kyu Line. Seperti garis pembatas penguasa disini. Aku sudah sudah berusaha membubarkan line itu tapi gagal hehe.” Jelas Kangin sambil bergurau. Jelas ia tidak bisa membubarkan Kyuline karena permainan sepak bola mereka berempatlah yang selalu membawa pulang piala tunament.

“Hemm.. Tidak, tidak apa-apa. Aku pasti bisa membiasakan diri.” Jawab Yoon Ah. Iya semoga dengan cepat membiasakan diri.

“Ayo ikut aku ke kantor akan ada beberapa data yang harus kau isi dan tanda tangani, dan aku akan memberikan seragam untukmu juga.”

Kangin berjalan deluan dan Yoona sambil menyeret kopernya mengikuti kangin dari belakang. Yoon ah tersenyum sambil berkata hei pada setiap orang yang ia lintasi dan menatapnya. Tapi orang itu malah tertawa aneh mengejek tingkah Yoon Ah. Ahh.. Yoon Ah tidak tahu cara menyapa yang sering dilakukan para cowok. Dia memang masih payah. Hanya covernya saja yang menyerupai Yoon Wo tapi sikapnya masih original Yoon Ah.

Yoona akhirnya selesai mengisi biodata dirinya, menyerahkan surat keterangan pendidikan terakhir, kesehatan dan pernyataan resmi yang dibuat ayahnya. Semua atas nama Yoon Wo. Untung saja ia sering menduplikat tanda tangan Yoon Wo. Jadi hal ini bukan masalah sama sekali. Data yang ia isi adalah untuk menerima pelatihan dengan berbagai syarat yang sudah ia setujui dan penempatan kamar asramah serta jam makan yang akan ia dapat disini. Itu yang paling penting, tempat tidur dan makan. Maka ia bisa hidup dengan  baik.

“Semua sudah beres. Aku akan mengenalkan kau dengan salah satu guru disini. Dia adalah guru bagian olah fisik, mental para murid, sekaligus ketua pengurus asramah kelas A.” jelas Kangin. Lalu kepalanya memutar-mutar mencari orang yang ia maksud diantara guru-guru lelaki yang ada didalam kantor.

“Oh.. Guru Choi!! Guru Choi!! Kemarilah!!” panggil kangin. Yoon Ah mengikuti pandangannya kearah kangin yang memanggil seorang lelaki tampan dengan postur tubuh yang kekar, rambut hitam, dan senyum yang sangat manis dengan lesun pipi yang ia miliki. Guru Choi? Dia terlalu muda untuk disapa Guru.

Lelaki itu berjalan mendekati kangin dan Yoon Ah. Lalu dia berhenti menatap kangin sekilas dan berganti menatap Yoon Ah yang menyamar sebagai Yoon Wo. Tatapan mata guru Choi pertama-tama seperti kaget saat melihat Yoon Ah, entah apa yang ia pikirkan, wajah terkejutnya seperti mengungkapkan kalau ia seperti pernah bertemu Yoon Ah sebelumnya. Tapi setelah ia teliti dari atas kepala sampai kaki, perlahan wajahnya berubah biasa dan terbilang menjadi dingin.

“Pernalkan ini Choi Siwon. Tapi ia lebih sering dipanggi Guru Choi disini. Jika kau ada kesulitan dan perlu konsultasi kau bisa menemuinya. Dia berada disini dua puluh empat jam kecuali weekend.” Jelas kangin. Pada Yoon Ah. Yoon Ah menatap guru choi dengan senyum kaku. “Dan ini Yoon Wo, yang pernah ku ceritakan tempo hari padamu.didiklah ia dengan benar dan jadikan dia pemain kelas dunia dari korea selatan.”

Mwo? Yoon Ah melongo mendengarnya? Apa? Pemain sepak bola kelas dunia dari korea selatan? Harapan macam apa itu? tapi kalau dipikir-pikir boleh juga. perduniaan persepak bolaan pasti akan heboh dan gempar dengan adanya pemain wanita yang sangat jago, yaitu dirinya. Hahaha. Ayahnya juga pasti bangga dengan kemampuannya mengolah bola dilapangan hijau. Dikepalanya Yoon Ah pun menghayal ia sedang memegang piala dunia, mencium piala besar itu. dan mengangkatnya tinggi-tinggi keawan. Dan Tuukk!! Sesuatu yang keras jatuh kepalanya. Apakah ada penonton yang melemparkan batu kepadanya?

“Ya!! Apa yang sedang kau lakukan?” ternyata Siwon yang memukul kepala Yoona mengguakan pulpen.

Yoon Ah tersadar dari lamunan konyolnya. Dan menatap Siwon yang sedang memelototinya. Yoon Ah menjauhkan dirinya dari Siwon. Siwon terlihat sedikit menakutkan untuknya. Yoon Ah celingukan mencari sosok kangin, tapi sudah tidak ada, kenapa dia pergi, kenapa disini jadi ada dia dan Siwon saja?

“Kemana mr. Kangin?” tanya Yoon Ah. Dia lupa menakan tadi harus memanggil kangin dengan sebutan apa.

“Maksudmu Pak Ketua? Panggilah ia seperti itu. dasar tidak sopan! Dia sudah pergi ada urusan lain.” jawab Siwon dengan ketus.

Yoon Ah hanya memanggutkan kepalanya mencoba mengerti saran dari Siwon.

“Bawa kopermu! Akan ku tunjukan kamar asramah untukmu.” Perintah Siwon tanpa basa-basi.

“baiklah..” jawab Yoon Ah dan segera menarik kopernya mengikuti langkah Siwon.

“Guru Choi…” panggil Yoon Ah.

Siwon tak menoleh hanya berdehem tanda ia mengedangar ucapan Yoon Ah.

“Apakah aku akan berbagi kamar dengan murid lainnya?” tanya Yoon Ah.

“Iya tentu saja, kenapa kau keberatan? Jika keberatan kau bisa tidur dihotel.” Jawab Siwon.

Yoon Ah menggelengkan kepalanya dengan cepat. “Tidak.. tidak. Aku tidak keberatan sama sekali.” Bohong. Sebenarnya ia keberatan. Itu artinya ia harus tidur sekamar dengan lelaki? Ah.. tidur sekamar dengan Yoon Wo saja ia belum pernah,kecuali saat ia bayi.Apalagi dengan lelaki asing?. Dia benar-benar merasa was-was.

“Tenang saja. sistem tempat tidur di Asramah kelas A adalah Single Bed.” Siwon seolah bisa membaca pikiran Yoon Ah.

“Oh.. begitu.” Setidaknya tidak harus berbagi kasur.

“Hemm Yoon Wo, dari data yang kubaca kau memilki saudara kembar perempuan benarkah itu?” tanya Siwon, ia menoleh kebelakang sekilas lalu berjalan lagi.

Yang benar adalah ia memiliki saudara lelaki. “Iya..benar, namanya Im Yoon Ah. Kami kembar indentik. Hanya saja adikku Yoon Ah, dia lebih cantik, rambutnya panjang, kulitnya halus dan baik hati, tidak seperti aku yang kadang suka pemberontak dirumah.” Narsis sedikit didepan lelaki tampan tidak masalahkan? Lagi pula sekarang ia sedang menjadi Yoon Wo. Anggap saja itu pujian dari Yoon Wo, karena ia sudah menolongnya.

Siwon tersenyum kecil mendengarnya. “Apakah adik perempuanmu ada di korea juga?” tanya Siwon.

Yoon Ah, terdiam. Kenapa ia bertanya seperti itu? apakah lelaki ini ingin minta ditemukan dengan Yoon Ah, dan dikenalkan dengan Yoon Ah. Mana bisa? Dia harus mencari jawaban yang masuk akal. “Iya dia memang sempat kekorea untuk mengantarku, tapi tadi pagi ia sudah kembali ke Jerman lagi.” Bohong Yoon Ah. Jelas-jelas ia ada disini.

“Oh.. begitu..” jawab Siwon.

“Memangnya kenapa?” Yoon Ah jadi penasaran.

“Tidak, aku hanya bertanya saja.” jawab Siwon singkat. Seolah mengalihkan pembicaraan Siwon membuat tofik pembicaraan baru dengan Yoon Ah. “Oh.. Iya, setiap hari kau harus bangun jam enam pagi untuk mengikuti lari pagi, lalu sarapan jam delapan, lalu mengikuti perkuliahan, makan siang jam satu dan istirahat sampai jam dua, lalu pelatihan fisik, sampai jam enam sore. Baru setelah itu mandi dan istirahat dan melakukan kegiatan sesuka hatimu di asramah tanpa melanggar aturan. Mengerti?”

Yoon Ah memanggutkan kepalanya dengan yakin. “Ne.. Arraseo!”

Yoon Ah dan Siwon berdiri didepan pintu kamar bertuliskan A-207, Siwon  menggetuk pintunya empat kali. Itu adalah kode untuk dirinya agar para murid didalam tahu bahwa yang akan masuk dan mengecek kamarnya adalah guru choi. Maka tidak lama menunggu pintu kamarpun terbuka. Jonghyun lelaki dari kyuline membua pintunya. Baik ia dan Yoon Ah sama-sama terkejut. Ini benar-benar kejutan!

Changmin ikut melongokkan kepalanya disamping Jonghyun. Dan dia juga langsung terlihat shock mendapati Siwon dengan Yoon Ah berdiri didepan kamar mereka.

“Sesuai data kamar yang ku peroleh, didalam kamar ini memiliki satu kasur kosong kan? Jadi saya akan menempatkan Yoon Wo disini, berbagi kamarlah dengan baik padanya.” Jelas Siwon tanpa basa-basi. Nampaknya ia tidak telalu suka basa-basi.

“Yoon Wo, ini Changmin, dan ini Jonghyun. Kau akan sekamar dengan mereka!”

“Kenapa harus dimar kamar kami? Bukankah di kelas B atau C banyak yang kosong?” protes Changmin.

“Benar. Tapi pak ketua menyuruhnya tinggal di kelas A. sudahlah kau jangan banyak protes. Yoon Wo. Bawa masuk koper mu kedalam.”

Changmin mendengus kelas. Apa-apaan ini, kenapa dia harus berbagi kamar dengan orang baru seperti Yoon Wo. Orang yang sangat ia benci sejak awal berita tentang dirinya muncul di sekolah akademik ini. Tahu akan seperti ini, seharusnya kemarin-kemarin. Dia sudah membakar kasur kosong itu. agar Yoon Wo si murid baru tidak mengganggu kehidupannya.

“Baiklah.. Yoon Wo, jika kau ada masalah apapun selama masa adaptasimu kau bisa menemuiku di ruang guru.”

“Baik.. Terima kasih.” Jawab Yoon Ah.

Siwon menatap ketika anak muridnya. Changmin, Yoon Wo, dan Jonghyun yang berbiri bersama didalam kamar. Siwon mengangkat alisnya, dan berharap semua akan baik-baik saja. lalu ia menarik engkol pintu dan menutup pintu kamar tersebut. Meninggalkan Yoon Wo bersama kedua teman barunya didalam kamar A-207.

“Aissh!! Apa yang mereka pikirkan untuk menaruh orang ini dikamar kita, Jonghyun!!”Keluh Changmin, meperti memaki Jonghyun dan Yoon Ah.

Yoon Ah terdiam masih memegang gagang kopernya. Jika Changmin tidak menyukai dan tidak menerima kehadirannya disini, ia jadi merasa tidak nyaman berada dikamar ini.

“Ya.. begitulah kebijakan sekolah  aneh ini.” Jawab Jonghyun. Sambil menurunkan barang-barangnya dan milik Changmin yang ada disur lantai dua, dibagian bawahnya adalah kasur milik Jonghyun. Dan disampingnya milik Changmin.

“Ah.. kau aturlah dia, kau saja yang urusi, aku benar-benar pusing, harus berbagi kamar dengan anak ini!” Changmin berjalan sampai menumbruk bahu Yoon Ah yang menghalagi jalannya didepan pintu dengan begitu kasar. Lagi-lagi Yoon Ah sampai terhuyung.

Changmin membuka pintu dan keluar dari kamar. Ia membanting pintu dengan sangat keras, sampai Yoon Ah mengerngitkan mukanya karena suara dentuman pintu yang terlalu nyaring.

“Kenapa kau masih diam disitu?” tegur Jonghyun.

Yoon Ah tersenyum kaku. Dia menatap Jonghyun yang berdiri didepannya. Walaupun jonghyun memang berucap dan bersikap dengan dingin padanya, tapi entah kenapa ia selalu melihat tatapan mata yang hangat dari Jonghyun, dia berbeda dari ketiga temannya. Setakut-takutnya Yoon Ah pada Kyuline. Tapi ia merasa kalau Jonghyun adalah yang paling aman.

“kau bisa menyimpan pakaianmu di lemari itu. itu belum ada yang pakai, dan kau bisa tidur di atas. Hanya itu yang kosong. Dan kamar mandi situ. Karena kita bertiga kau tidak boleh mandi terlalu lama! Mengerti?”

“Iyaa.. aku mengerti.” Jawab Yoon Ah.

Selesai berbicara dengan Yoon Ah, Jonghyun mengambil buku yang tergeletak diatas kasurnya dan dia merebahkan dirinya diatas kasur sambil membaca buku tersebut. Diam-diam Yoon Ah tersenyum melihat tingkah Jonghyun.

Yoon Ah dalam diam tidak mau mengganggu Jonghyun sama sekali, ia membuka kopernya dan merapikan semua pakaiannya kedalam lemari. Ditumpukan paling akhir, ia mengambil boneka rilakumanya. Boneka kesayangannya. Ia tidak dapat tidur tanpa memeluk boneka itu. Yoon Ah. Menyembunyikannya dibelakang tubuhnya. Dengan hati-hati ia naik ke kasur bagian atas dan merapikan tempat tidurnya. Lalu ia meletakan rilakumanya dipojokan. Semoga ia dapat dengan tenang tinggal disini.

~**~

Suara Lonceng yang sangat keras terdengar dari pengeras suara yang ada disetiap kamar asramah. Lalu disusul dengan suara Siwon yang menyiksa telinga para murid yang masih setengah sadar dari alam mimpi mereka.

“Bangun!! Bangun!! Dalam waktu sepuluh menit semuanya sudah harus berbaris dilapangan satu!!”

Semua murid didalam kamar grasak-grusuk untuk mengganti pakaian tidur mereka dengan pakaian training untuk olahraga pagi. Mereka juga mencuci muka dan sikat gigi dengan kilat. Ini sudah menjadi kebiasaan mereka setiap pagi dari hari senin-jum’at. Tapi di Kamar A-207 Changmin berteriak-teriak memaki suara siwon yang mengganggu ketenangan hidupnya itu setiap pagi. dan Jonghyun dengan mata meram menggosok giginya didepan washtafle. Lalu Yoon Ah dia masih damai dengan selimut lembutnya dan memeluk rilakumannya. Nampaknya tidurnya nyenyak sekali.

Changmin mendongakkan kepalanya., dan mendapati Yoon Ah yang tidur menghadap ke jagaan kasur dengan wajah terbungkus selimut. Membuat dirinya seperti kepompong. “Urusi dia! Aku tidak mau sampai kena hukuman hanya karena dia!” ucap Changmin pada Jonghyun yang sedang mengganti celananya.

Jonghyun menatap keatas juga. dan mendapati Yoon Ah masih nyenyak dalam tidurnya. “ apakah ia menutup telinganya? Kenapa ia bisa tidur sedamai itu?” tanya Jonghyun heran.

“Entahlah! Jika dia tak juga bangun, sebaiklah kau jatuhkan saja dia kebawah.” Kata Changmin asal, lalu berlalu masuk kedalam toilet.

“Ya!! Yoon Wo!! Yoon Wo!! Ireonahaseoyo!!” teriak Jonghyun sambil menggoyangkan tubuh Yoon Ah.

Yoon Ah, mengerjap-ngerjapkan matanya. Dia sedang mengumpulkan nyamanya. Dan saat ia membuka sedikit matanya dan mendapati sosok Jonghyun didepan wajahnya. Mata Yoon Ah terbelalak kaget, dan dia langsung melompat bangun dari tidurnya sambil berteriak.

“Aaaahhhhhhhhh!!!!!!” teriak Yoon Ah karena saking kagetnya. Jonghyun yang berdiri di tangga kasur tanpa berpegangan mendengar teriakan Yoon Ah yang melengking dan tiba-tibai sampai jatuh terduduk akhirnya.

Changmin keluar dengan berkelanjang dada meneteng kaos olahragnya. “Waeyo?”

Yoona menoleh ke changmin. Dan sekali lagi ia berteriak dengan kencang saat mendapati Changmin yang memamerkan otot perutnya yang bagus dihadapan Yoon Ah. Sampai-sampai Changmin dan Jonghyun menutup telinga mereka tengan telapak tangan. Pagi ini dia nampaknya sangat shock. Karena saat ia bangun dia mendapati dirinya sekamar dengan dua lelaki asing. Dia benar-benar lupa kalau ia sedang menjadi Yoon Wo bukan Yoon Ah.

~**~

Semua murid sudah berlari mengelilingi lapangan satu yang sangat luas yang biasa dijadikan lapangan basket Outdoor sebanyak dua putaran, sedangkan Yoon Ah baru tiba dilapangan dengan muka lesuh. Dia celingukan apa yang harus dia lakukan sekarang? Setelah bangun tidur membuat kekacauan kini ia malah berdiri bingung dipinggir lapangan, menonton teman-temannya yang memandanginya dengan tatapan tidak suka apalagi Kyuline. Mereka seperti akan membunuh Yoon Ah hidup-hidup.

Terdengar suara peluit dibunyikan. Yoon Ah menoleh, dan mendapati Guru Choi menggerakan jari telunjuknya kearahnya, mengisyaratkan agar ia mendekat kepadanya. Yoon Ah langsung berjalan menghampiri Siwon. Dan berdiri dihadapan Siwon.

“Bukankah aku sudah bilang setiap pagi kau harus bangun jam enam untuk melakukan lari pagi?” tanya Siwon tanpa basa-basi, suaranya terdengar sangat tegas.

Yoon Ah menunduk, ia takut menatap mata Siwon yang berkilat. Ia juga memainkan jemari tangannya, itu tanda kalau dia sedang gugup. “Itu aku.. heem..aku… Maafkan aku, aku mengalami sedikit masalah dengan perbedaan waktu di Jerman dan Korea, jadi aku belum bisa menyesuaikan diri. Maafkan aku, aku janji besok tidak akan mengulanginya lagi.”

Siwon menghela napas berat. Dia biasanya tidak memberikan ampunan pada setiap murid yang tidak disiplin dan melanggar pelaturan. Tapi ini situasinya beda. Yoon Wo adalah murid baru yang datang dari Jerman jadi untuk mesalah ini mungkin dia harus memakluminya. Alasan yang di buat Yoon Ah ternyata cukup masuk akal baginya.

“Oke, tapi jika besok seperti ini lagi kau akan ku hukum!” tegas Siwon. “Sekarang ikut lari bersama mereka, sepuluh kali kitaran lapangan.”

“Mwo?” seru Yoon Ah tanpa sadar.

“Apa? Kau keberatan lima belas kali kalau begitu!”

Yoon Ah menggelengkan kepalanya. “Cukup! Sepuluh kali saja cukup…” dengan cepat Yoon Ah berlari mengusul teman-temannya yang sedang berlari.

Siwon hanya memantaunya dari tempatnya berdiri. Lagi-lagi Siwon memandangi Yoon Ah dengan tatapan yang aneh dan seperti akan mengingat sesuatu tapi yang ia tidak bisa yakinkan sendiri apakah ingatannya itu benar atau tidak.

Disaat yang lain sudah selesai dengan lari sepuluh putaran Yoona masih berlari diputaran ke tujuh dengan nafas yang tersenggal-senggal dan keringat sebesar biji beras mengucur deras diwajah dan tubuhnya. Padahal dia sebenarnya cukup berpotensi dalam hal berlari. Tapi kemampuanya bukan apa-apa disini. Teman-temannya yang para lelaki semua lebih kuat dan cepat larinya daripada dia.

KyuLine duduk dipinggir lapangan sedang melakukan istirahat sejenak. Mereka semua kompak menatap Yoon Ah yang sedang berlari kearahnya. Ini putaran terakhir yang harus yoon Ah tuntaskan.

“Kau ingin mengerjainya tidak?” tanya Kyuhyun.

“Tentu saja,aku harus memberi dia pelajaran karena sudah membuat kekacauan di kamarku.” Ucap Changmin.

“Apa yang mau kau lakukan memangnya?” tanya Minho penasaran.

Changmin hanya tersenyum dengan sudut bibirnya. Dan Yoon Ah berlari semakin dekat kearahanya. Changmin memanjangkan kaki kanannya sampai melewati batas garis pinggir lapangan. Yoon Ah yang pandangannya lurus kedepan tidak dapat melihat ada kaki Changmin yang mengbatasi langkah larinya. Sehingga ketika Yoon Ah semakin dekat maka ia menyandung kaki Changmin dan terjatuh tersungkur di lapangan beraspal.

“Aaauhh…”

Dengan Kompak Kyuline tertawa melihat Yoon Ah jatuh dalam posisi mencium aspal. Hanya Jonghyun yang tidak beraksi. Dia memang tidak sekejam ketiga temennya dia  hanya menyandang sifat sombong dan pendiam.

Semua murid termaksud guru choi berlari berhamburan menghampiri Yoon Ah, Yoon Ah masih bertahan dengan posisinya. Rasanya tubuhnya semuanya sakit. Terutama tangan, kaki dan dagunya.

“Yoon Wo! Kau baik-baik saja?” tanya Siwon. Yang berdiri didepan kepala Yoon Ah yang masih bertahan diatas aspal.

“Heemm…” hanya itu yang mampu Yoon Ah keluarkan dari mulutnya.

Siwon menunduk membantu membangunkan Yoon Ah.dia memegang kedua lengan Yoon Ah  dan mengangkat  Yoon Ah agar berdiri. Tapi nampaknya Yoon Ah terlalu lemas untuk berdiri, dia hampir saja terjatuh. Tapi Siwon segera menahan Tubuh Yoon Ah dengan cara merangkulnya. Keadaan Yoon Ah benar-benar kacau. Ujung hidungnya terluka. Dagunya yang paling parah, ia mendapat luka didagunya yang terus mengeluarkan darah segar yang sudah mengalir dilehernya.

Mereka semua tidak ada yang melihat bagaimana kejadian sesungguhnya ketika Yoon Ah terjatuh tadi. Jadi tidak ada yang menyalahkan Changmin atas kejadian ini. Justru mereka berbisik-bisik tentang fisik Yoon Wo yang katanya anak manta pelatih sepak bola Timnas korea, ternyata sangat lemah. Dan Yoon Wo dinilai Babyboy. Manja. Tidak cocok untuk masuk dunia persepak bolaan nasional.

“Sebaiknya, kau ke ruang kesehatan sekarang.” Ucap Siwon masih merangkul Yoon Ah, Siwon celingukan menatap murid disekitarnya. Dia perlu sedikit bantuan yang lain. pandangannya jatuh kepada Kyuline. Dan dia nampak menimbang-nimbang. Dan akhirnya menggerakkan dagunya kearah Jonghyun. “Jong, bisa kau bantu aku membawa Yoon Wo  ke ruang kesehatan?”

Jonghyun terdiam, dia tidak tahu harus melakukan apa. Masa temannya yang berulah jadi dia yang harus melakukannya. Suruh saja Changmin atau Kyuhyun. Tapi walau dengan berat hati akhirnya Jonghyun memanggutkan kepalanya dan berjalan kearah Siwon dan yoon Ah. Jonghyun meraih tangan YoonAh agar berpegangan pada bahunya. Maka Siwon dan Jonghyunpun memapah Yoon Ah.

“Kalian semua, lanjutkan latihan kalian seperti biasa sampai jam delapan!” perintah Siwon. Dan murid-murid langsung bubar dengan keluhan dimulut mereka.

Siwon tidak mempedulikan keluhan-keluhan itu, latihan tetap latihan jangan hanya satu orang terluka maka semuanya jadi tidak latihan. Maka ia segera memapah Yoon Ah bersama Jonghyun menuju ruang kesehatan yang cukup jauh dari lapangan satu. Mata Yoon Ah sudah berakaca-kaca bibir bawahnya juga ia gigit kuat-kuat. Itu ia lakukan untuk menahan sakit di kaki tangan dan wajahnya yang terluka. Kau pasti bisa bayangkan bagaimana rasa sakitnya diasaat kau habis berlari sepuluh putaran dengan kaki yang sudah melemah tiba-tiba jatuh terlembar mencium aspal dan terluka? Pasti sakit kan?

~**~

Yoon Ah tiduran diatas kasur diruang kesehatan dengan memejamkan matanya. Siwon dan Jonghyun masih berdiri dihadapannya. Nampaknya dokter yang bertugas di ruang kesehatan ini belum datang. Maka terpaksa Siwon dan Jonghyun yang harus mengurusi Yoon Ah.

“Jong, bisa kau ambilkan hair hangat, alcohol, perban, plaster, obat antiseptik dan handuk bersih!” perintah Siwon.

Tanpa menjawab apapun. Tapi Jonghyun melangkah keluar dari tirai dan berjalan pergi. Untuk mengambil itu semua. Ini namanya benar-benar seperti batu yang dilemparkan keudara tapi tetap mendarat ketanah. Temannya yang berulah tapi malah dia yang harus bertanggung jawab.

Begitu Jonghyun keluar Siwon masih berdiri terdiam memandangi Yoon Ah yang tiduran diatas kasur sambil memejamkan matanya. Siwon nampak bingung harus melakukan apa. Yoon Ah menitihkan air matanya, pertahannya kalah dengan rasa sakit yang ia derita. Siwon terkejut saat melihat air mata mengalir dipipi Yoon Ah. Kenapa dia menangis. Yoon Ah menangis dalam diam.

“Yoon Wo.. kau menangis? Kau baik-baik saja?” tanya Siwon dengan khawatir. Pasalnya dia dipesam oleh kangin untuk menjaga Yoon Wo dengan baik selama seminggu.

Tidak ada respon apapun Yoon Ah masih saja mengeluarkan air matanya. Matanya pun masih terpejam.

“Maaf jika latihan fisik yang aku berikan terlalu berat untukmu, tapi kau tetap harus melakukannya, karena kau sudah menanda tangani semua aturan dan perjanjian kemarin, jadi kau harus bisa lebih siap dan sportif dengan semua ini. Lari sepuluh kitaran lapangan bukan apa-apa, kau masih harus latihan yang lainnya. Kau juga harus mempunyai fisik yang kuat seperti yang lainnya. Kau sekarang di Korea didalam Yonsai Sport akademik. Bukan lagi di Jerman di bawah ketiak orang tuamu! Jadi kau harus berlatih dengan sungguh-sungguh! Buktikan kalau kau lelaki yang dapat diandalakan!” Siwon terus berbicara menjelaskan serta memotivasi Yoon Wo.

Yoon Ah mendengar semua apa yang diucapakan Siwon. Seharusnya ucapan itu untuk Yoon Wo, bukan untuk dirinya. Dia tidak pernah berpikir kalau akan seperti ini rasanya tinggal di sekolah dan Asramah khusus laki-laki. Biar sekeras apapun dia merubah penampilan luarnya semirip Yoon Wo, agar terlihat seperti lelaki. Tapi tetap saja didalam dirinya ia mempunyai sosok perempuan yang penuh perasaan.

Jonghyun sudah kembali dengan membawa baki berisikan semua yang tadi diperintahkan Siwon. Jonghyun meletakan semua itu diatas meja dekat kepala Yoon Ah. Siwon segera menuangkan alcohol kedalam baskom alumunium berisi air hangat, lalu ia rendam handuk selama tiga puluh detik. Setelah diperas airnya. Dia langsung letetakan di dagu Yoon ah yang mengalami luka robek yang cukup parah dari pada luka lainnya yang hanya berbentuk sebuah goresan.

Siwon berusaha menyumbat darah yang keluar dari dagu Yoon Ah, Yoon Ah merintih kesakitan. Rasanya benar-benar sakit ketika luka itu tersentuh handuk yang hangat dan beraroma alcohol. Yoon Ah membuka matanya. Tepat ketika Siwon menunduk menatap Lukanya. Mata mereka jadi bertemu. Dan dengan sigap Yoon Ah bergerak kaget dan salah tingkah. lagi-lagi ia lupa kalau dia sekarang adalah Yoon wo bukan Yoon Ah.

Dengan bantuan Siwon dan Jonghyun akhirnya semua luka Yoon Ah sudah diobati dan diperban serta di plaster. Dari ujung hidung, dagu, pergelangan tangan,  dan lutut kaki kirinya. Dan bahkan sekarang Yoon Ah sudah bisa duduk diatas kasur.

“Kau bisa mengikuti pelajaran selanjutnya tidak?” tanya Siwon.

“Aku tidak begitu yakin..” jawab Yoon Ah.

“Baiklah sebaiknya kau istrihat dikamarmu. Dan besok aku tidak mau ini terjadi lagi. Jika ini terjadi, aku akan menghukum mu push-up seratus kali! Mengerti?!”

“Mengerti!” jawab Yoon Ah. Iya dia harus bilang mengerti agar tidak kena hukuman Push-up.

“Jong, kau bawa Yoon Wo ke kamar, aku harus kelapangan mengecek yang lain.”

“kenapa harus aku lagi?” tanya Jonghyun, dia nampak terlihat sudah bosan mengurusi Yoon Wo.

“Karena kau teman sekamarnya! Cepat lakukan!” Ucap Siwon tegas sambil menepuk bahu Jonghyun.

Jonghyun pasrah. Dia sedang malas mendapati hukuman apapun. Jadi lebih baik dia melakukannya tanpa membantah. Jonghyun segera merangkul Yoon Ah dan memapahnya berjalan bersamanya keluar ruang kesehatan untuk menuju kamar Asramahnya.

“Kau sadar tidak pagi ini sudah membuat banyak kekacauan?” tanya Jonghyun.ditengah jalan mereka.

“Iya.. Aku minta maaf.”

“Maaf saja tidak ada artinya. Ini untuk pertama dan terakhir kau membuat kekacauan dan merepotkan aku!” tegas Jonghyun.

Yoon Ah memanyunkan bibirnya. “Iya.. dan terima kasih karena sudah membantuku.”

Lalu Jonghyun terdiam dia tidak menanggapi ucapan Yoon Ah. Yoon Ah sempat melirik Jonghyun yang rahangnya mengeras dia seperti menahan emosi. Yoon Ah jadi serba salah. Dia merasa benar-benar telah merepotkan Jonghyun. Tapi jika ia melepaskan diri dari Jonghyun, dia tidak yakin dapat berjalan dengan baik sampai kamar asramah sendirian. Jadi biarkan saja deh Jonghyun memapahnya. Besok-besok dia yakin akan lebih berhati-hati dan tidak menyusahkan orang lain.

~***~

Yoon Ah membuka selimut tebal yang menutupi wajahnya. Matanya melirik kelangit-langit kamar. Ia menggeser tubuhnya merapat ke jagaan kasur dan melongok kebawah. Sepi, kamar ini sepi tidak ada Jonghyun dan Changmin. Yoon Ah barusaha bangun dari tidurnya sudah berapa lama ia tertidur? Sekarang tubuhnya sudah merasa lebih baik, kaki dan tangannya sudah tidak terlalu sakit seperti tadi pagi. Perut Yoon Ah mulai berteriak karena belum diisi sejak tadi pagi.  Diapun mencoba turun dari atas kasur. Dia harus mencari makan. Yoon Ah berjalan kearah pintu sambil merapikan poni rambutnya yang sedikit berantakan. Ia membuka gagang pintu. Dan suasana  di bangsal asramah sama sepinya dengan didalam kamarnya. Yoon Ah berjalan tanpa peduli, mungkin dia harus menuju cafeteria sekolah ini, siapa tahu masih ada sisa makan siang disana untuk dirinya. Dia benar-benar lapar sekali.

Sambil berjalan Yoon Ah memegang buah dadanya sendiri. Ia merasa kain pengikat buah dadanya terasa sedikit longgar, mungkin karena ia tadi banyak bergerak saat tidur. ia mencoba menaikan kain pengikat dadanya. Hah.. harusnya ia tadi kekamar mandi sebentar untuk membereskan ini.

“Apa yang sedang kau lakukan disini?”

Yoona terkejut bukan main saat mendengar suara seseorang dihadapannya. Tangannya buru-buru ia turunkan dari dadanya. Dan memasukan kedalam kantong celananya, semoga orang itu tidak melihat apa yang tadi ia lakukan. Yoon Ah mengangkat wajahnya. Dan Siwon berdiri sambil berkacak pinggang manatapnya dengan tajam. Yoon Ah langsung tersenyum kaku. Lagi-lagi guru Choi.

“Apa yang sedang kau lakukan berkeliaran di jam pelatihan sore?” tanya Siwon lagi.

Yoon Ah nampak sangat gugup. “Maaf aku baru saja bangun tidur. karena kejadian tadi pagi.. aku.. hemm..”

Belum selesai Yoona menjawab Siwon sudah memotong ucapan Yoon Ah. “hari ini kau sudah membuat banyak masalah dan melanggar aturan. Besok jika kau berani melakukan ini, aku tidak akan mengampuni kau Yoon Wo.”

Yoona memanggutkan kepalanya. “Iya aku janji Guru Choi. Aku pasti tidak akan membuat masalah dan melanggar apapun lagi.”

“Bagus. Jadi sekarang apa yang ingin kau lakukan berkeliaran disini?”

Yoon Ah nampak ragu menjawabnya. Tapi perutnya benar-benar perih sekali. Dia butuh makan. “aku.. aku.. Apakah jatah makanku masih ada?”

Siwon menatap Yoon Ah dengan heran.

“Aku benar-benar lapar. Aku tidak sarapan dan makan siang, sekarang sudah sore. Aku benar-benar lapar. Bisakah aku mendapatkan makan? Apapun aku dapat memakan apapun aku bukan type pemilih makanan.” Dia benar-benar lupa diri karena kelaparan. Keterlaluan.

Siwon menepuk bahu Yoon Ah dua kali dengan kencang. “Dasar kau bocah tengil. Yang ada dipikiran mu hanya makan ya? Sedangkan lari saja kau jatuh dan sampai terluka.” Sindir Siwon.

“itu.. aku yakin ada yang menyandungku. Tapi aku tidak tahu siapa yang melakukannya.” Yoon Ah mencoba memebela dirinya.

“Kau tidak bisa menuduh orang lain tanpa bukti.”

Yoon Ah terdiam akhirnya. Benar dia tidak punya bukti apapun. Walaupun dia yakin saat ia terjatuh didekat Kyuline ia merasa kakinya menyandung sesuatu tapi ia tidak melihat apa yang sudah ia sandung. Tiba-tiba ia sudah terjatuh mencium aspal lapangan. Dan itu sangat memalukan dan menyakitkan.

Yoon Ah mengikuti Siwon dari belakang, dia menatap punggung Siwon dari belakang lalu tersenyum, rasanya lucu sekali. Semenjak ia berada disekolah ini sejak kemarin ia merasa berjalan di belakang Guru choi sudah menjadi kebiasaannya.

“Apa keadaan kau sudah baikkan?” tanya Siwon tanpa menoleh.

“Iya, sudah tidak sesakit tadi. Guru Choi terima kasih karena sudah membantuku tadi.”

“Itu sudah kewajibanku sebagai penanggung jawab kelas A. jika kau ingin mengganti perbanmu didagumu datang saja ke ruang kesehatan, disana ada dokter jaga bernama Hyoyeon.” jawab Siwon acuh dan berbelok ke kanan. Yoon Ah masih saja mengekorinya.

“Dia wanita? Jadi disini ada wanita juga?” Yoona tersenyum ternyata dia tidak sendiri wanita disini. Eh.. tapi percuma saja Dokter Hyoyeon juga pasti tahunya dia sebagai Yoon Wo, bukan Yoon Ah.

“hanya Dokter Hyo..” jawab Siwon singkat.

Mereka sudah sampai di cafeteria. Keadaannya sama sepinya. Sebenarnya dimana sih murid-murid berlatih kalau sore hari? Kenapa lingkungan sekolah jadi begitu sepi sekali.

“Cepat kau ambil apa yang ingin kau makan, sebelum mereka merapikan semuanya dan mengganti untuk makan malam tiga jam lagi.” Perintah Siwon sambil memberikan nampan pada Yoon Ah.

“Baiklah..” dengan cekatan Yoona menyendok nasi, soup ikan, dan telur goreng. Dia berlari kegirangan kemeja makan dan memakannya dengan lahap. Untuk urusan makan seperti anak lelaki ini bukan masalah sama sekali. Jika dimeja makan tidak ada ayahnya dia sering melakukan makan seenaknya bersama Yoon Wo. Yoon Wo yang mengajarkan hal ini padanya sejak kecil yaitu kebebasan saat makan.

“Makanlah pelan-pelan, jangan seperti hewan ternak begitu, aku sudah makan dan tidak akan mengambil makanmu!” ucap Siwon sambil meletakan segelas air putih dimeja Yoon Ah.

Yoon Ah sampai terbatuk-batuk karena ucapan Siwon. Sial, baru kali ini ada lelaki yang mengatainya seperti hewan ternak. Yoon Wo! Awas saja kau! Kau tidak pernah bilang padaku bahwa makan seperti ini seperti hewan ternak bukan seperti lelaki sejati yang sering kau bilang padaku! Gerutu Yoon Ah dalam hati. Yoon Ah mengambil gelas dan meminum setengah airnya. “Kamsahamnida.” Ucap Yoon Ah pada Siwon.

“Kau bisa makan sendirikan? Aku harus melihat anak-anak yang lain di ruang latihan.”

“Iya.. bisa, pergilah, Guru choi bisa meninggalkan aku sendiri disini.” Jawab Yoon Ah dengan mulut terisi nasi.

Tanpa berbicara apapun Siwon berjalan menjauh dari meja YoonAh. Yoon Ah kembali melanjutkan makannya tanpa peduli. Sebelum keluar dari cafeteria Siwon menoleh lagi ke Yoon Ah. Dahinya berkerut manatap Yoon Ah, dia seperti masih memendam sesuatu dipikirannya. Matanya bahkan sampai menyipit segala mengamati sosok Yoon Ah yang sedang makan. Apakah dia dia curiga kalau Yoon Wo itu adalah Yoon Ah? Tapi kenapa ia bisa curiga? Jelas-jelas Yoon Wo dan Yoon Ah sangat mirip bahkan tinggi tubuh mereka juga hanya beda tiga senti. Apakah seditail itu Siwon menilai Yoon Wo dan Yoon Ah. Memannya Siwon sudah pernah bertemu Yoon Ah? Melihat dari photo sulit dibedakan.

“Yoon Wo.. iya dia memang Yoon Wo. Dia adalah lelaki. Dia bukan Yoon Ah, mana mungkin dia nekad masuk sekolah laki-laki, apalagi untuk menjadi pemain sepak bola, memangnya untuk apa itu semua? Ah.. kenapa aku masih merasa curiga kalau dia Yoon Ah kembaran Yoon Wo. Jelas-jelas dia Yoon Wo.” Siwon berbicara sendiri menanggapi keresahannya itu. lalu ia mengalihkan tatapannya dan benar-benar pergi dari cafeteria itu. meninggalkan Yoon Ah yang masih menikmati makanannya.

Yoon Ah mengangkat kepalanya. Dan melihat kearah pintu cafeteria. Ternyata sudah tidak ada Siapa-siapa disana. Tadinya Dia berpikir tadi Guru choi berdiri disitu dan mengamati dia yang sedang makan ternyata hanya perasaannya saja. tidak ada guru choi disitu. Yoon Ah melanjutkan makannya lagi. Sebentar lagi akan habis.

~***~ To Be Continued ~***~

Note : Finally, akhirnya publish juga kan?? Hoho.. sebenarnya sudah rapi seminggu ini part satunya hanya saja saya belum sempat isi modem. Isi modem sekalian buat beli Tix online GGtour aja biar cepat koneksiannya. Hehe ^^ gimana cerita part satunya? Apa kalian suka jalan ceritanya? Aku berencana buat FF ini tidak terlalu panjang mungki sampai part delapan/sembilan saja. ditunggu ya respon atas FF LOVE High kick ini. Kalo yang susah bayangin Yoon Ah yang jadi Yoon Wo itu seperti apa, liat saja cover FF ini. Iya percis seperti itu gantengnya Yoon Ah yang menjadi Yoon Wo!! Hehe..Oh,, iya baca juga FF saya yang Special Girl ya!! Ditunggu juga responnya!! Gomawo and Annyeong!! :^)

Advertisements

108 comments on “FF – Love High Kick! ( Sequel – Part.1 )

  1. Wah wah gak sengaja ketemu ff ini. . .keren .suka pake bnget ama jalan ceritanya. .ijin baca chapt selanjtnya. .g0mawo0. .

  2. Crita’a menarik bnget thor . . . Saya suka_saya suka. . . .

    Sbnr’y ksian jg yoongie. . .knp si yoon wo nyuruh adix’y ikut plthan sepkbola yg smua’a laki2. ,apa tdk kasian a5 kmbaran’a sndri? ?
    Aq msih pnasaran a5 siwon. .kog dya ky mngenal yoon ah? ?
    Smg hubngn ke2’a smkin dkat. . . . . . .

    Daebak lah crta’a thor (y)

  3. Halo eonnie^^
    Udah lama bgt nih gk buka blog eonnie. Terakhir ff yg aku baca ‘cofee shop’/?
    Ffnya kayak film minho sulli/? Wkwk
    Kok siwon doang ya yg ngerasa aneh sm yoona? Yang lain biasa aja. Wkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s