FF – Winter in Gangnam ( Sequel – Part.1 )

FF-Yw-WIG.jpg

FF – Winter in Gangnam

( Sequel – Part. 1 )

 

Title : Winter of Gangnam

Type : Sequel / Part

Author : Ulanchoi Hyoyoon / Twitter : @Lovelyulan

Genre : Romance, Suspence, Melodrama, Mystery

Ratting : PG – 18  

Main Cast : 

  • Choi Siwon of Super Junior
  • Im Yoon Ah of  Girls’ Generation

Special Cast :

  • Lee Soo Man As Choi Sang Jo
  • Lee Hye Yeong As Choi Sun Mi

Support Cast :

  • Lee Donghae of Super Junior
  • Tiffany Hwang of Girls’ Generation
  • Yesung of Super Junior
  • Sooyoung of Girls’ Generation
  • Kyuhyun of Super Junior

 

Warning! : “ If You Don’t Like This Story, You Don’t Read and please Leave my Blog, and If You Like this Story You can Read and Please Leave a Comment and Give a Like sign…^^Remember!! You Do not Copy paste my Mind about This story..and This is just a Fanfiction, I’m So Sorry for Typo in This Story 🙂 So Enjoy to Reading…!!

 

Yoona, gadis yang mengenakan hanbok berwarna hitam memandang hamparan luas pantai dari laut Dadaepo dari atas batu karang. Matanya yang indah terus terjaga tanpa berkedip. Wajahnya sudah memucat, bibirnya yang pecah-pecah juga sudah membiru karena menahan angin laut yang sangat dingin sore ini. Sekarang adalah bulan Januari dimana musim terdingin di Korea Selatan sedang terjadi.

Hari ini Yoona harus mengalami hari duka yang kedua kalinya. Dua tahun lalu sang ayah tercinta meninggal karena kecelakaan, abu sang Ayah ditaburkan dilaut ini, lalu hari ini Ibu yang tercinta dan segalanya bagi hidupnya juga harus pergi meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya karena Tumor otak yang sudah di derita ibu Yoona bertahun-tahun. Dan tadi dia juga baru saja selesai menaburkan abu ibunya dilaut ini.

Nampaknya Yoona sudah tidak mampu menanggung beban hidup seorang diri lagi, Ayah dan ibunya adalah anak tunggal, nenek kakeknya sudah lama meninggal, lalu di lingkungan rumahnya dia di kucilkan oleh para tetangganya karena telah menyusahkan tetangga dengan selalu meminjam uang, karena ayahnya sering berjudi dan mabuk-mabukan, Lalu kekasihnya yang bisa dikatakan  Yoona sangat menyayanginya dan mempercayainya malah mencampakkannya begitu saja. bahkan mereka sudah tidak saling bertemu lagi sejak Delapan bulan lalu.

Tidak. Yoona tidak mengeluarkan air matanya setetes pun. Dia hanya mematung terdiam tanpa melakukan apapun diatas batu karang. Sepertinya air matanya sudah terbuang banyak sebelum ini jadi hari ini dia pasti sudah menguatkan diri bahwa hari ini tentu akan terjadi, maka dia tidak menangis sama sekali. Hanya wajahnya yang saja yang nampak begitu sangat tertekan. Seolah-olah banyak sekali masalah di dunia ini yang harus diselesaikan olehnya.

Akhirnya setelah sekian lama Yoona mematung diatas batu karang, terlihat tangannya bergerak mencengram hanbok yang ia kenakan. Kakinya perlahan juga bergerak melangkah mendekati pinggir karang. Jika ia terus berjalan maka dia bisa saja jatuh ke dasar laut dari atas batu karang yang cukup tinggi. Tapi nyatanya Yoona tetap berjalan dan nampaknya ia sengaja melakukan hal itu. ia ingin segera mengakhiri hidupnya.

Haji anhneunda– Jangan Lakukan!”

Seorang pria dewasa memakai pakaian serba hitam dengan secara tiba-tiba muncul menarik lengan Yoona kebelakang. Yoona  berupaya berontak minta dilepaskan. Tapi pria dewasa itu semakin menyeret dengan paksa Yoona untuk turun dari karang dan kembali ketepi pantai yang berpasir putih.

“Lepaskan!! Lepaskan tanganku!” teriak Yoona.

 

“Tidak! Kau tidak boleh melakukan itu! kau adalah gadis yang ceria kau tidak boleh melakukan hal seperti itu.” pria itu mencoba menenangkan Yoona yang sedang mengamuk itu.

 “Lepaskan!! Lepaskan tanganku!” teriak Yoona semakin histeris.

“Tidak! Kau tidak boleh melakukan itu! kau adalah gadis yang ceria kau tidak boleh melakukan hal seperti itu.” pria itu mencoba menenangkan Yoona agar tidak melakukan hal seperti itu.

Pria yang kira-kira seusia dengan Ayah Yoona  yang sudah meninggal itu, meraih tubuh Yoona kedalam pelukannya, mendekapnya begitu erat. Yoona masih saja berontak untuk melepaskan diri dan berteriak ingin mati. Dan bahkan akhirnya air matanya tumpah seiring luka yang kian menyayat perasaannya.

 

 

Choi Sang Jo memberhentikan mobilnya di tepi pantai. Dia melepaskan sabuk pengamannya dan keluar dari mobil, dari jarak yang cukup jauh dia memandang ke hamparan laut luas didepan matanya. Entah tatapan macam apa dari sorot matanya yang redup itu, dia memandang seorang gadis memakai hanbok hitam yang sedang berdiri membelakanginya diatas karang besar.

Choi Sang Jo nampak sedikit ragu untuk melangkahkan kakinya menghampiri gadis itu. Angin laut sore yang dingin terus berterbangan meniup wajannya. Dia menarik nafas panjang sebelum akhirnya melangkahkan kakinya mendekati gadis itu. kedatangan dia kesini memang untuk menemui gadis itu. Ya, walau sepenuhnya dia belum siap untuk berhadapan langsung dengan gadis itu tapi dia sudah terlanjur membuat janji dengan seseorang, dan dia tidak bisa melanggar janji tersebut.

Choi Sang Jo kenal baik dengan gadis itu dan seperti apa gadis itu. walau belum sekalipun dia berbicara langsung dengan gadis itu. Dia berharap kedatangannya kali ini dapat diterima dengan baik oleh gadis itu.

Jadik Choi Sang Jo dengan gadis itu sudah semakin dekat, Choi Sang Jo sudah berdiri dibelakang tubuh gadis itu, nampaknya gadis itu terlalu larut dalam pikirannya sendiri sehingga tidak sadar dengan kehadiran orang lain disekitarnya. Perlahan Choi Sang Jo melihat gadis itu mencengkram hamboknya lalu berjalan semakin mendekati ujung batu karang. Choi Sang Jo panik. Apalagi dia melihat sendiri bahwa jarak gadis itu dengan ujung batu karang tinggal beberapa sentimeter lagi. Dengan gerakan cepat Choi Sang Jo berlari menghampiri gadis itu menarik tangannya menahan apa yang akan dilakukan oleh gadis itu. Jantungnya berdebar hebat.

Haji anhneunda– Jangan Lakukan!” Teriak Choi Sang Jo sambil menarik erat tangan gadis itu.

 “Lepaskan!! Lepaskan tanganku!” gadis itu sambil berusaha melepaskan diri dari tangan Choi Sang Jo. Choi sang Jo dengan sekuat tenaga menarik tangan gadis itu agar menjauh dari ujung batu karang, kalau tidak mereka bisa saja jatuh kedalam air laut.

“Tidak! Kau tidak boleh melakukan itu! kau adalah gadis yang ceria kau tidak boleh melakukan hal seperti itu.” Choi Sang Jo mencoba menenangkan gadis yang sedang mengamuk itu.

 “Lepaskan!! Lepaskan tanganku!” teriak gadis itu semakin histeris.

“Tidak! Kau tidak boleh melakukan itu! kau adalah gadis yang ceria kau tidak boleh melakukan hal seperti itu.”  ucap Choi Sang Jo dengan suara yang terdengar gemetar. Dia menarik tubuh gadis itu kedalam pelukannya dan mendekap dengan erat agar gadis itu tidak lagi berusaha untuk melepaskan diri dan bunuh diri.

“Kau tidak akan sendirian Im Yoona! Kau harus tetap hidup normal, Ajeossi(paman) yang akan menanggung dan mengurus kehidupanmu selanjutnya. Jadi tidak ada yang perlu kau khawatirkan lagi.” Im Yoona adalah nama gadis yang ada dipelukan Choi Sang Jo.

Mendengar ucapan dari Choi Sang Jo gadis yang bernama  Yoona akhirnya berhenti berontak dan berteriak-teriak. Yoona masih tetap menangis tersendu-sendu. Butir-butiran salju mulai kembali turun dari langit. Udara semakin terasa dingin. Yoona menggigil didalam pelukan pria tersebut. Sambil mencengkram kuat-kuat mantel yang dikenakan pria itu. seperti meminta perlindungan.

Pria tersebut merenggangkan pelukannya pada Yoona. Dia melepas mantel hitam yang ia pakai,  ia memakaikan mantel miliknya pada tubuh Yoona.

Kajja– Ayo kita kembali ke rumahmu, banyak hal yang ingin ajjeossi bicarakan padamu.”

Tanpa berbicara apapun. Yoona menggerakkan kakinya mengikuti pria itu menuntun langkahnya menuju sebuah mobil berwarna silver yang terpakir di pinggir pantai.

 

Yoona akhirnya berhenti berontak  dan berteriak-teriak didalam pelukan Choi Sang Jo, ia masih menangis didalam pelukan Choi Sang Jo. Tubuh Yoona menggigil seiring dinginnya angin yang terus bertiup. Tapi yang lebih dengin adalah hati Yoona, dia mengenal lelaki yang yang sedang memeluknya ini. Dalam pelukan Choi Sang Jo, mata Yoona menerawang dan mulai sibuk pada pikirannya sendiri. Yoona tahu cepat atau lambat dia memang akan bertemu dengan Choi Sang Jo walaupun sejujurnya dia tidak berharap bertemu dengan Choi Sang Jo. Tapi memang nampaknya takdirlah yang membiarkan mereka bertemu. Dan mungkin ini adalah waktu yang tepat.

Yoona mengcengkram erat-erat mantel yang dipakai Choi Sang Jo, matanya menatap tajam entah menatap kearah mana. Dia merasa jantungnya bergemuruh dihadapan lelaki ini. Semua perasaan menjadi campur aduk.

Choi Sang Jo melepas pelukannya dia memberikan mantel yang ia pakai ketubuh Yoona yang ia rasa sudah kedinginan. “Cepat kita kembali kerumah mu, banyak hal yang ingin ajjeossi bicarakan padamu.”

Choi Sang Jo berjalan deluan menuju mobilnya yang terpakir ditepi pantai, Yoona mengikutinya dari belakang sambil menatap punggung choi Sang Jo dengan tatapan matanya yang begitu tajam.

Sebelum Yoona masuk kedalam mobil dia menyempatkan diri memandang kembali hamparan laut luas tersebut. Lalu dia beralih menatap Choi Sang Jo yang sedang tersenyum padanya dan mempersilakan dirinya masuk kedalam mobil. Walau masih ragu akhirnya Yoona pun masuk kedalam mobil.

Eomma– Ibu, Aboji– Ayah, dia telah datang dihadapan ku. Apa yang harus aku lakukan?” ucap Yoona dalam hatinya begitu mobil itu berjalan meninggalkan tepi pantai tempat dimana abu dari jasad Ayah dan ibu Yoona disebar.

 

****

 

Im Yoona  duduk bersama Choi Sang Jo, pria yang tadi menyelamatkannya untuk tidak bunuh diri, di lantai kayu teras rumahnya yang menjadi terlihat sedikit usang karena tidak terawat selama tiga bulan ibunya sakit dan harus dirawat dirumah sakit sebelum akhirnya meninggal.

“Sebenarnya siapa Ajeossi?” Tanya Yoona  dengan suara yang terdengar dingin.

Choi Sang Jo tersenyum sambil menatap langit putih yang masih menjatuhkan butir-butiran salju. Di pekarangan rumah Yoona. “Aku adalah Choi Sang jo, teman sekolah Ayah dan ibu mu waktu SMA. Kami bertiga berteman baik.” Jawab pria itu masih sambil menyunggingkan senyuman diwajahnya.

 “Tapi aku baru pertama kali bertemu dengan anda, apakah aku bisa mempercayai anda begitu saja?”  Yoona benar-benar mengungkapkan kecurigaannya dengan sikapnya yang  begitu dingin. Pria itu merogoh saku celananya. Mengeluarkan dompet miliknya. Dia mengambil sembar foto dan diberikan kepada Yoona, Yoona mengerutkan dahinya melihat selembar foto yang nampak sudah lama.

“Disisi kiri itu Im Won Jin, Ayah mu. Lalu ditengah-tengah Hwang Yoon Mi ibu Mu dan di sisi kanan adalah aku.” Jelas pria itu tentang orang yang ada di foto tersebut.

Yoona terdiam, wajahnya masih terlihat datar. Entah dia percaya atau tidak kalau pria yang bernama Choi Sang Jo ini benar-benar teman dari kedua orang tuanya. Karena dua orang di foto itu memang Ayah dan ibunya saat masih muda. Yoona mengembalikan foto tersebut pada Sang Jo. Sang Jo menyimpannya kembali didalam dompetnya. Lagi pula sebenarnya dia tidak perlu bukti apapun untuk percaya, karena dia sudah tahu siapa Choi Sang Jo itu. hanya Yoona ingin mengenal Choi Sang Jo dari sudut pandang lelaki itu yang memang teman dari kedua orang tuanya dimasa lalu.

“Apakah orang tuamu tidak pernah bercerita tentang masa remajanya kepadamu?” tanya Sang Jo.

Yoona menggelengkan kepalanya.

“Ah..mereka berdua benar-benar telah melupakanku ternyata.” Keluh Sang Jo diiringi senyum kecil yang terlihat getir.

Yoona menatap wajah Sang Jo yang memakai kaca mata. “Apakah kau yang membiayai rumah sakit dan pengurusan kematian eommaku?”

Sang Jo terdiam sesaat mendengar pertanyaan yang dilontarkan Yoona padanya.

“Sebelum eomma meninggal, dia berkata padaku untuk menemui temannya yang bernama Sang Joo, tapi aku sangat tidak tertarik untuk mencari anda.”

Sang Joo kembali menatap Yoona. “Benarkah? Sebetulnya aku dan ibu mu masih sering berteman baik walau hanya lewat telepon. Aku ini lelaki Gangnam yang super sibuk. Jadi aku benar-benar menyesal baru menemui kamu saat kematian Yoon Mi.”

“Sekarang kita sudah bertemu, jadi kenapa akhirnya anda datang jauh-jauh dan meninggalkan kesibukan anda hanya untuk menemui ku?” tanya Yoona.

“Ibu mu berpesan pada ku untuk merawat anak satu-satunya yang dia miliki dan cintai. Dia tidak ingin anak gadisnya terlantar. Dia sangat menyayangi mu. Jadi kau mengerti kan?” Sang Jo balik bertanya pada Yoona.

“Apakah aku harus ikut anda tinggal di Gangnam, Seoul? Lalu bagaimana dengan rumah ini?” tanya Yoona sambil menatap tajam Sang Joo.

Sang Joo menatap seluruh bangunan rumah yang terlihat sederhana  tapi terasa hangat walau di musim sedingin ini. Rumah dengan bangunan kayu pinus dan dihalamannya dipenuhi berbagai macam tanaman hias yang sudah tidak terawat lagi.

“Heem..Bagaimana jika rumah ini kita sewakan saja? jadi kau masih tetap pemilik rumah ini dan rumah ini akan dirawat oleh si penyewa.” Usul Sang Jo.

Yoona ikut-ikutan menatap setiap sudut bangunan rumahnya. Dan menatap sedih tanaman-tanaman hias ibunya yang sudah layu. Yoona bangun dari duduknya. Dia berjalan menghampiri pot bunga mawar yang terjatuh di tanah. Dia membetulkan pot itu keposisi semula.

“Aku akan memikirkannya dahulu.” Jawab Yoona.

“Baiklah.. akan ku berikan kau waktu untuk berpikir selama tiga hari. Aku benar-benar tidak punya banyak waktu, ku harap tiga hari lagi saat aku datang kesini, kau sudah mempunyai pilihan yang terbaik.”

Yoona hanya memanggutkan kepalanya.

“Sepertinya aku harus kembali ke Seoul. Jagalah dirimu baik-baik, ku harap kau akan menjadi keluarga ku juga.”

Yoona tak berkata apapun. Sang Jo mengambil mantelnya yang digeletakan Yoona dilantai begitu saja. Sang Jo menepuk bahu Yoona. Dan akhirnya berjalan keluar dari rumah Yoona meninggalkan Yoona sendirian.

Selepas sang Jo pergi, Yoona langsung jatuh terduduk. Dia mulai menangis lagi sesegukan. Yoona memukul-pukuli dada kiri letak jantungnya yang terasa sakit. Dia nampak sangat terbebani dan menyimpan banyak rahasia yang belum dia mengerti sendiri dan belum mau dia katakan kepada siapa pun. Dia hanya memendamnya sendiri seiring dengan kesedihan hatinya.

Tetesan salju yang begitu dingin nampaknya sudah membekukan Yoona, dia tidak peduli dengan pakaian hanboknya yang sudah basah dengan cairan salju. Dia masih menangis didekat tanaman milik ibunya. Yoona benar-benar bingung harus melakukan apa disaat kesendiriannya ini. Tidak ada yang dapat menolong hidupnya selain dirinya sendiri.

 

****

FLASHBACK

 

Yoona berjalan di bangsal rumah sakit sambil membawa nampan berisikan semangkuk bubur dan segelas air mineral. Ia membuka pintu kamar nomor 407 tempat dimana ibunya dirawat. Yoona tersenyum melihat ibunya yang sedang duduk bersandar pada kasur. Yoona menutup pintu kamar dan menghampiri ibunya.

“Eomma.” Panggil Yoona.

Ibunya menoleh dan tersenyum melihat anak satu-satunya sudah datang. Yoona merapikan meja kecil dipinggir kasur ibunya untuk meletakan mangkuk bubur beserta segelas air. Yoona memasangkan sapu tangan pada leher ibunya. Yoona menyendokkan sedikit bubur untuk disuapi ke ibunya.

“Sudah waktunya makan malam. Eomma harus makan yang banyak. Agar eomma cepat sembuh.” Ucap Yoona sambil mengarahkan sesuap bubur ke mulut ibunya. Dengan susah payah ibunya membuka mulut dan memasukan bubur tersebut ke mulutnya.

Yoona  terdiam melihat ibunya yang nampak kesusahan mengunyah bubur, Yoona menyodorkan segelas air ke ibunya agar ibunya bisa menelan bubur tersebut. Tapi tetap saja masih terlihat sulit untuk menelan apapun. Tapi Ibunya membuka mulut lagi minta di suapi bubur lagi oleh anaknya. Yoona  pun dengan sabar kembali menyuapi sesuap bubur ke mulut ibunya.

Tidak tahan melihat keadaan ibunya yang semakin hari semakin memburuk dengan tumor otak stadium akhir yang dideritanya, Yoona pun mengeluarkan air matanya. Sebelum ibunya melihat kalau dia menangis, Yoona segera membuang muka dan mengelap air matanya dengan punggung tanganya. Dia tidak mau ibunya bersedih karena melihat dirinya menangis.

“Makan lagi ya eomma. Buburnya enak kan?” tanya Yoona sambil menyuapi ibunya lagi.

Ibunya memanggutkan kepalanya, mulutnya bergerak seperti sedang berbicara ‘ini enak sekali’ tapi tidak ada suara yang dapat di dengar Yoona. Yoona  mengulangi lagi menyuapi ibunya tapi, di suapan kelima bubur yang ibunya makan keluar lagi dari mulut. Yoona  menjadi panik melihat ibunya memuntahkan buburnya.

“Mianhae..” ucap ibunya dengan suara parau.

“Tidak apa-apa eomma.. aku akan merapikannya. Setelah ini kau tidurlah.” Yoona  tidak sanggup menatap wajah ibunya saat ini dia hanya menunduk sambil membersihkan baju dan kasur yang menjadi kotor.

Setelah semua sudah dirapikan dan dibersihkan, Yoona membawa kembali nampan berisikan mangkuk bubur dan gelas yang belum habis keluar dari kamar rawat ibunya. Begitu sampai di luar kamar Yoona bersandar pada daun pintu dan mulai menangis. Dia benar-benar tidak tahan melihat keadaan ibunya yang sejak lima hari lalu mulai tidak bisa menelan makanan apapun yang dia makan.

 

Pagi Hari ini tugasnya Yoona membersihkan tubuh ibunya bersama seorang perawat, begitu perawat yang sudah selesai membatu menggantikan pakaian ibu Yoona  Keluar. Ibu Yoona  memegangi tangan Yoona dengan sangat erat. Matanya yang sayup berusaha menatap wajah anaknya dengan penuh kasih sayang.

“Yoona-ah..”panggil ibu Yoona dengan suara yang begitu pelan.

“Ne, Eomma.” Jawab Yoona.

Dalam keadaan tiduran diatas kasur ibunya mencoba meraih wajah Yoona. Yoona  menundukan tubuhnya mempermudah untuk sang ibu menyentuh serta mengelus wajahnya, dengan sesuka hati.

“Apa kau sudah menemui paman Choi Sang Jo?” tanya Ibunya.

Yoona menggelengkan kepalanya.

“kenapa? Kau harus bertemu dengannya. Dia adalah yang akan merawat kamu selanjutnya. Dia sangat baik.”

Sejak beberapa hari lalu Ibu Yoona selalu menyuruh Yoona pergi ke Seoul tepatnya di Gangnam untuk menemui temannya yang bernama Choi Sang Jo, ibunya selalu bilang kalau orang itu yang akan merawat Yoona jika ibunya  sudah tidak ada. Dan orang itu juga yang akan membuat hidup Yoona bahagia. Tapi masalahnya Yoona tidak pernah mau menemui orang itu dan bersikeras tidak pernah mau bertemu dengan orang itu. walau Yoona  memang tidak mengenal bagaimana orang yang bernama Choi sang Jo tersebut. Tapi Yoona tahu nama dan siapa Choi sang Jo itu. Dia mempunyai alasan tersendiri untuk menolak ke inginan ibunya. Jikapun nanti dia berubah pikiran itu juga karena ia pasti punya alasan tersendiri  juga.

“Yoona hanya ingin Eomma tetap hidup!” teriak Yoona sambil terisak. “Walaupun nanti eomma tetap meninggalkan Yoonai. Yoona bisa hidup sendiri, usia Yoona sudah dua puluh tiga tahun, Yoona bisa mengurus hidup Yoona sendiri.”

Melihat anaknya menangis, ibu Yoona ikut menangis sambil meraih anaknya kedalam pelukkannya. Mereka menangis bersama dalam kesedihan dan sama-sama tidak mau meninggalkan serta ditinggalkan.

“Maafkan eomma, ini semua salah Eomma. Karena eomma kau menjadi susah.”

Yoona tidak bicara apapun dia hanya menangis dan menangis didalam pelukan ibunya tercinta. Seutas kertas kwintansi pembayaran rumah sakit terjatuh dari saku celana Yoona. Dan disana tertera pelunasan seluruh biaya rawat dirumah sakit atas nama si pembayar adalah Sang Jo Choi. Jadi Yoona  berusaha membunyikan hal itu pada ibunya. Bahwa lelaki yang sebenarnya bernama Choi Sang Jo itu sudah ada disekitar mereka. Yoona hanya tidak mau menemuinya dan tidak ingin ibunya di temui oleh orang itu. Yoona tahu siapa Sang Jo itu hanya saja dia tidak ingin tahu apapun tentang orang itu.

“Choi Sang Jo… karena lelaki itu, benar karena dia.. Eomma aku benci dengannnya!” terdengar suara Yoona yang sangat pelan disela tangisanya.

****

 

Setelah berpikir selama dua hari akhirnya Yoona memutuskan untuk ikut dan tinggal bersama keluarga teman ayah ibunya yang bernama Choi Sang Joo. Hari ini dia sudah tiba di Gangnam dirumah milik Sang Jo yang super mewah dan megah. Yoona bahkan sampai terheran-heran dengan keadaan yang dia lihat sekarang ini. Dia seperti sedang berada disebuah istana. Tapi istana yang menyeramkan bagi Yoona.

“Ajeossi..”

Setelah memutuskan untuk tinggal bersama Sang Jo tanpa menyewakan rumahnya yang ada di Busan kepada orang lain dan membiarkan rumah itu tetap kosong. Yoona mulai memanggil Sang Jo dengan sebutan ‘Ajeossi’ bukan lagi ‘Anda’ dalam kata formal dan terdengar begitu dingin.

Yoona memang tidak mau menyewakan rumah yang menjadi satu-satunya peninggalan dari orang tuanya.  Selain disana banyak sekali kenangan tentang keluarga mereka, disana juga menjadi saksi bisu bagaimana kehidupan keluarganya yang sederhana dan jauh dari kebahagian.

“Ada apa?” tanya Sang Joo.

“Apakah tidak masalah jika aku tinggal disini? rumah ajeossi terlalu besar dan mewah.”

Sang Jo membuat senyuman lucu tentang ucapan Yoona. “Rumahku tidaklah besar hanya saja kau yang merasa kecil.” Canda  Sang Jo.

Sang Jo mengambil alih membawakan koper besar berisi pakaian milik Yoona, Sang Joo juga merangkul bahu Yoona dengan sebelah lengannya lagi, mengajak Yoon Ji masuk kedalam rumahnya.

Yoona terdiam menatap dalam rumah tersebut yang benar-benar sangat mewah dan rapi. Sang Jo terus merangkul bahu Yoona membawa Yoona ke ruang keluarga. Disana sudah duduk seorang anak lelaki yang mungkin hanya beda beberapa tahun dengan Yoona dan seorang wanita dewasa yang cantik serta terlihat elegant.

“perkenalkan ini adalah Im Yoona. Seperti yang sudah ku bicarakan dengan kalian, bahwa mulai hari ini Yoona akan tinggal bersama kita.” Ucap Sang Jo seolah memberi kabar gembira.

Ternyata apa yang di katakan sang jo nampaknya menjadi angin lalu saja bagi kedua orang yang begitu cuek dan tidak simpatik dengan kedatangan Sang Jo yang membawa Yoona masuk kedalam rumah mereka.

“Yoona, ini adalah Ajeomma (Tante) Sun Mi, dia istri ajeossi.” Sekarang Sang Jo mencoba memperkenalkan keluarganya pada Yoona.

“Dan lelaki tampan itu, dia anak Ajeossi satu-satunya, namanya Choi Siwon. Kau bisa memanggilnya dengan sebutan Oppa(Kakak lelaki) karena dia lebih tua dua tahun dari usia mu.”

Yoona menundukan kepalanya memberikan salam perkenalan. “Annyeonghasimnika (Hallo, apa kabar?)” Tapi hanya mendapat respon dingin dari kedua orang di ruangan itu. Yoona malah mengukir senyum kecil dibibirnya.

“Karena Yoona sudah berada di rumah kita, maka tidak ada pembedaan untuknya, Yoona sudah ku anggap sebagai anak ku sendiri. Jadi kalian juga harus begitu terhadapnya.” Tegas Sang Jo membuat terkejut anak dan istrinya yang mendengar ucapannya itu.

“Yang benar saja Abeoji mengambil keputusan ini secara sepihak! Seharusnya ada lebih banyak pembicaraan dan kesepakan yang kita buat sebelum menerima orang lain didalam keluarga kita!” Protes Siwon keberatan. Atas keputusan yang di buat ayahnya dengan seenaknya.

Yoona mengangkat kepalanya mendengar apa yang disampaikan oleh Siwon barusan, apa yang di ucapkan Siwon tadi secara tidak sengaja telah membuat Yoona tersinggung. Ternyata anak Sang Jo tidak bisa menerimanya dengan baik. Yoona  diam-diam menatap Siwon dengan serius dan sudut bibirnya terangkat seperti meremehkan Sikap Siwon.

Sedangkan istrinya nampaknya lebih memilih diam dan membekukan suasana disekitarnya. Sang istri usai menatap Sang Joo dan Yoona bergantian, dia langsung bangun lalu pergi dari ruang keluarga menuju kamarnya. Tak lama akhirnya di ikuti juga oleh Siwon yang naik  ke lantai dua menuju kamarnya juga.

“Mereka memang seperti itu dengan orang asing, tapi  kau tenang saja, mereka sebenarnya sangat baik dan hangat. Jadi kau tidak perlu sungkan dan takut berada dirumah ajoessi ini.ini sudah menjadi rumahmu juga.” Ucap Sang Jo menghibur Yoona.

Yoona menundukan  kepalanya mengerti apa yang dibicarakan oleh pria yang sudah berbaik hati padanya.

Imo (Bibik) bisa kau kesini?” Sang Jo memanggil bibik pelayan rumahnya yang sejak tadi berdiri disudut ruangan.

Pelayan rumahnya dengan sigap berjalan menghampiri panggilan tuan rumahnya. “Iya tuan.. apa yang harus saya lakukan?”

“Tolong antarkan serta bawakan koper Yoona ke kamarnya di lantai dua.” Ucap Sang Jo.

Pelayan rumahnya tersenyum sambil mengambil alih koper Yoona.

Sang Jo menepuk pelan bahu Yoona “istirahatlah! jika kau perlu sesuatu kau bisa minta tolong pada Imo dan ajeossi.”

“Baik.” Jawab Yoona singkat.

Imo sudah berjalan menaiki anak tangga yang besar dan panjang untuk sampai kelantai dua. Yoona mengikuti dari belakang. Imo menunjukan sebuah kamar dengan pintu berwarna putih susu, Imo membukakan pintu tersebut dan langsung Yoona mendapatkkan kekaguman kedua kalinya dari rumah ini, kali ini atas kamar yang didapatnya saat ini.

Yoona mengembangkan senyumannya, ini adalah kamar impiannya. Sebuah kamar dengan konsep minimalis berwarna putih dan pink dari wallpaper dinding bunga sakura, lantai yang dialasi karpet bulu halus berwarna coklat yang lembut dan hangat, serta bed cover pink pastel pada super bed tersebut. Meja belajar yang sudah lengkap dengan computer serta audio, dan sebuah kamar mandi didalam kamar. Tanpa harus keluar kamar hanya untuk buang air kecil serta mandi.

Sebelum Yoona menyetujui  tinggal dirumah Sang Jo, dia meminta satu permintaan yang harus Sang Jo sanggupi. Yaitu Yoona ingin tinggal disana dengan suasana dan konsep kamar yang dia ingin kan. Dengan mudahnya Sang Jo menyetujuinya. Maka Yoona  memberikan seluruh daftar seperti apa bentuk kamar impiannya. Dan hari ini saat Yoona berada di rumah Sang Jo, dia benar-benar mendapatkan apa yang di inginkannya.

“Jika nona ada perlu, silakan panggil saya.” Ucap imo sambil menunjuk telepon wireless yang menempel pada dinding.

 Yoona memanggutkan kepala. “Ne .” jawab Yoona.

 Imo keluar dari kamar membiarkan Yoona sendiri dikamar barunya. Yoona langsung bejalan menghampiri super bed tersebut. Dia terduduk diatas super bed dengan wajah dinginnya. Yoona membuka Koper miliknya.

Benda pertama yang ia keluarkan dari dalam kopernya adalah sebuah bingkai foto. Yoona menatap bingkai tersebut dengan tatapan datar. Di bingkai  tersebut terdapat  foto ayah dan ibunya serta dirinya yang  masih remaja berada ditengah-tengah keduanya. Tiga orang yang terlihat sangat bahagia dan saling menyayangi satu sama lain. Yoona menyunggingkan bibirnya, dia merasa foto itu hanya kebohangan. Karena sekarang kebahagian itu sudah tidak ada bahkan tak tersisa sedikit pun.

Melihat foto ayah didalam bingkai yang masih ia pegang dan tatap. Yoona memejamkan kedua matanya, dahinya berkerut saat mengingat kejadian dua tahun lalu yang menimpah keluarganya dan yang membuat ayahnya meninggal dunia. Yoona seperti berjalan mundur dalam ingatannya. Dengan cepat ia membuka matanya kembali. Dia sudah tidak mau mengingat lagi seperti apa kejadian yang sangat ia takuti itu terjadi. Dada Yoona naik-turun seringin dengan nafasnya yang menjadi tidak beraturan.

Yoona meletakan Bingkai foto itu diatas meja belajarnya. Di gelas plastik bergambar mickey mouse yang ada di dekat komputer yang berubah fungsi menjadi tempat alat tulis. Yoona  mengambil pulpen merah, stabilo hijau dan beberapa lembar kertas Post-it. Yoona berjalan membuka lemari dua pintu berwarna putih susu. Pada papan lemari itu Yoona menempelkan kertas- kertas post-it  warna pink  membentuk sebuah segitiga.

Yoona menulis pada bagian atas segitiga dengan nama kedua orang tuanya menggunakan pulpen berwarna hitam dibawahnya dia menuliskan kata ‘Terpisahkan!’ lalu di stabilo hijaukan. Sisi kiri Yoona menulis nama Choi Sang Jo dengan pulpen merah dan dibawahnya dia menulis ‘pelaku utama pengganti kebahagian!’ dan distabilokan, sisi kanan ia menulis nama Istri Choi Sang Jo juga dengan pulpen merah dan ditambahkan tulisan ‘pengganti kebahagian mama papa!’ tulisanpun di stabilo kan. Lalu pada sisi bawah dia menulis nama anak Choi sang Jo dengan pulpen merah juga dan menambahkan ‘Apa yang pernah aku rasakan,kau juga harus merasakannya!’ tak lupa ia stabilo kan.  Terakhir Yoona menuliskan namanya sendiri pada Kertas Post-it dan di bawahnya bertuliskan ‘Misi balas dendam’ lalu ia stabilokan juga.

Yoona menambahkan beberapa point rencana yang akan dilakukan mulai hari ini di kertas post-it terpisah. Tertulis dengan pulpen merah rencana pertamanya adalah membuat Sang Jo lebih peduli padanya dari pada keluarganya, membuat kasih sayang pada Siwon berkurang. Yoona menatap hasil rencana yang ia buat baru saja. Yoona menutup lemari pakaian itu dan mengkuncinya.

“Choi Sang Jo Ajeossi. Aku tidak akan dengan mudah datang kerumah mu. Kedatangku ini penuh rencana yang sudah ku pikirkan matang-matang. Kau dan keluarga mu tinggal menikmati permainan yang sudah ku siapkan. Seperti kau mempermainkan keluargaku!” ucap Yoona sambil tersenyum penuh rencana.

Dalam waktu tiga hari yang diberikan Choi Sang Jo pada Yoona ternyata inilah hasilnya. Yoona menerima tinggal di rumah Sang Jo karena dia mempunyai misi tersendiri dalam balas dandamnya pada keluarga San Jo. Yoona masih menyimpan rapat-rapat rahasia apa yang membuat dia begitu benci Sang Jo. Sejak dulu saat ibunya memintanya menemui Sang Jo, Yoona selalu saja menolaknya, dan selalu tidak mau mengenalnya. Tapi  Sang Jo malah datang sendiri kehadapan Yoona yang sudah ingin mengakhiri hidupnya. Bagai membangunkan Harimau yang sedang tertidur, Maka Yoona pikir tidak masalah jika Yoona bermain-main serius dengan Sang Jo. Dan sejenak melupakan kesedihannya. Dan sasaran utama yang di incar Yoona adalah Siwon. Yoona ingin Siwon merasakan luka apa yang pernah ia alami karena ulah ayahnya. Sama seperti halnya Yoona yang tidak tahu kenapa Sang Jo bisa merusak keluarganya, maka Yoona tidak peduli apa salah Siwon sehingga dia ingin melakukan itu pada Siwon.

 

****

 

Yoona duduk di samping Siwon dan berhadapan dengan Sang Joo dan istrinya di meja makan. Yoona mulai memperhatikan satu persatu wajah keluarga barunya. Suasana makan malam nampak hening dan canggung. Yoona mengambil sesendok nasi karena melihat mangkuk Siwon yang masih kosong.

“Siwon oppa, aku ambilkan nasinya ya?” tanya Yoona  mencoba memberi perhatian pada Siwon.

Dengan kasar Siwon merebut mangkuknya. “Tidak perlu!” ucap Siwon terdengar kasar. “Aku bisa melakukannya sendiri!”

Yoona memanggut-manggutkan kepalanya. Yoona tersenyum menatap Sang Jo yang memperhatikan Siwon putranya dengan pandangan tidak suka melihat sikap kasar Siwon terhadap Yoona.

“Ajeossi.. biar aku yang menyendokkan nasinya. Aku sering melakukan ini untuk eomma dan Abeoji ku.” Yoona mengambil mangkuk Sang Jo dan mengisikan nasi kedalamnya. “Ini.” Lalu menyerahkan lagi kepada Sang Jo.

Gomawo  Yoona-yah.” Jawab Sang Jo di iringi senyum tulus darinya.

“Ajjeoma. Kau mau ku sendokan nasi juga?” tanya Yoona pada Sun Mi istri Sang Jo.

Sun Mi tidak berbicara apa-apa dia hanya menatap Yoona yang masih tersenyum menunggu dirinya menyodorkan mangkuk nasi.

“Berikan mangkukmu padanya. Dia sedang bersikap nyaman dirumah kita.” Ucap Sang Jo memberitahu istrinya.

Sun Mi akhirnya memberikan mangkuknya pada Yoona untuk di sendokkan nasi. Yoona semakin tersenyum lebar karena akhirnya istri Sang Joo menerima niat baiknya juga walau sedikit terpaksa.

Mereka pun memulai acara makannya. makan malam yang tersedia diatas meja makan ada sop jamur dan kimchi. Suasana di meja makan masih nampak hening hanya terdengar beberapa kali suara benturan sendok pada mangkuk. Atau suara sumpit pada mangkuk.

“Yoona. Kau suka makanan apa?” tanya Sang Jo ditengah makan.

“Aku? Aku suka semua makanan.” Jawab Yoona antusias.

Sun Mi dan Siwon melirikkan mata mereka menatap Yoona dan Sang jo dengan sudut mata mereka. Sambil berpura-pura tetap sibuk dengan nasi mereka.

“Apa kau bisa memasak?” tanya lagi Sang Jo.

Yoona  memanggutkan kepalanya dengan semangat. “Tentu saja aku bisa memasak. Eomma selalu mengajarkan ku memasak jika aku sedang libur sekolah. Oh, iya Ajjuma apa kau bisa memasak? Maukah kapan-kapan kita masak bersama?”

“Uhuk..uhukk..”

Sun Mi yang mendengar pertanyaan yang dilontarkan Yoona padanya menjadi tersendak. Pasalnya dia tidak bangus dalam memasak jadi dia merasa tersinggung dan kaget dengan pertanyaan Yoona yang mengajaknya masak bareng. Apa yang akan  bisa ia masak jika itu terjadi? Itu sama saja merendahkan dirinya didepan Yoona.

Yoona menuangkan air putih kedalam gelas dan buru-buru memberikannya pada Sun Mi. tapi Sun Mi menolaknya. Akhirnya Sang Jo yang mengambilnya dan memberikannya kepada istrinya. Yoona terdiam di kursinya bersikap merasa bersalah pada istri Sang Jo.

Siwon meletakan dengan kasar sumpit di meja makan. Siwon nampak sudah kehilangan selera makannya karena suasana baru yang membuatnya merasa tidak nyaman. Dia berdiri dari bangku tanpa bicara keluar dari acara makan malam, dia merasa kesal. Dia merasa Yoona telah sukses merusak suasana makan malamnya. Memang selama ini dia jarang makan malam dengan keluarganya tapi begitu makan malam lagi malah ada satu tambahan keluarga yang tidak bisa Siwon terima begitu saja.

Siwon tidak tahu asal usul Yoona yang  tiba-tiba datang dan ingin di angkat sebagai anak oleh Ayahnya. Siwon tidak masalah jika ayahnya mengangkat seorang anak, asalkan anak yang diangkat itu masih berusia dibawah sepuluh tahun. Bukan seorang anak perempuan yang usianya hanya beda dua tahun darinya. Dan bagi Siwon tentu semua ini masalah besar yang tidak bisa ia terima begitu saja.

“Siwon!!” teriak sang ayah yang melihat putranya pergi begitu saja. tapi Siwon menghiraukannya dan terus berjalan menuju lantai dua.

Yoona menundukan kepalanya dalam-dalam. Ia juga meletakan sumpitnya di atas mangkuk. Sang Jo memperhatikan perubahan sikap Yoona yang menjadi pendiam. Sang Jo menghela napas perlahan, dia memang harus sabar menghadapi situasi seperti ini. Disaat tiga orang didalam keluarganya belum bisa menyatu dan dalam perasaan yang berbeda pula.

“Yoona-ah..” Panggil Sang Jo pelan. “Makanlah nasinya lagi.”

“Aku tidak bisa makan jika Ajumma dan Siwon oppa tidak makan karena aku.” Jawab Yoona dengan suara yang terdengar serak.

“Mereka pasti akan makan nanti, jadi sekarang kau makan saja deluan.” Sang Joo mencoba membujuk Yoona.

Yoona menggelengkan kepalanya. Dia bangun dari duduknya. Dengan mata yang berkaca-kaca Yoona berjalan meninggalkan meja makan Juga.

Sang Jo tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Mungkin dia memang hanya bisa membiarkan ini semua terjadi dulu untuk sementara waktu sampai mereka benar-benar bisa menerima kehadiran satu sama lain dalam kehidupan mereka.

 

***

 

Yoona tersenyum dengan sudut bibirnya sambil membuka pintu kaca kamarnya yang menghubungkan dengan balkon kecil diluar kamarnya. Yoona keluar berdiri pada pembatas balkon menatap langit gelap tanpa bulan dan bintang yang biasa menyinari kota Seoul. Baru dihari pertama dia sudah sukses membuat kekacauan dan ketegangan dirumah Sang Jo.

Tapi tak lama Yoona nampak melamun memikirkan sesuatu yang ada dikepalanya. Dikepalanya saat ini banyak sekali rencana-rencana pembalasan dendam yang segera ingin ia tuntaskan. Atau mungkin ingin dia laksanakan dengan perlahan-lahan agar semuanya terasa begitu sempurna, menyakitkan dan setimpal dengan apa yang ia rasakan.

Yoona merasa dirinya ada yang mengawasi. Yoona tahu ada seseorang di balkon seberang kamarnya. Yoona  dengan perlahan memutar tubuhnya menghadap balkon seberang. Siwon yang sedang berdiri dibalkon sebrang kamar Yoona, diam-diam memperhatikan Yoona langsung terkejut dan berpura-pura tidak tahu.

“Apa yang sedang oppa lakukan?” tanya Yoona sambil menatap datar pada Siwon.

Siwon masih celingukan. Dengan wajah yang dingin SiWon mengabaikan pertanyaan Yoona. Karena sudah tertangkap basah memperhatikan Yoona. Siwon berinisiatif untuk masuk kedalam kamarnya.

Chamkkanman(Tunggu sebentar).” Cegah Yoona yang melihat Siwon ingin masuk kamar. Siwon menghentikan langkahnya tanpa menoleh menatap Yoona. “Maafkan aku. Oppa pasti tidak nyaman dengan kehadiranku disini kan?. Tapi bisakah kita berteman baik?” tanya Yoona.

Siwon akhirnya berani menatap Yoona lagi. Terlihat Yoona yang sedang tersenyum padanya. “Aku tak pernah menginginkan kehadiran mu disini.” Jawab Siwon terdengar ketus.

Senyum merekah dibibir Yoona perlahan sirna karena ucapan Siwon baru saja. wajah Yoona seketika juga berubah menjadi sedih. Dia menundukan kepalanya. “Aku mengerti.” Ucap Yoona dengan suara yang hampir tak terdengar.

Yoona memutar tubuhnya lagi sambil berjalan masuk kedalam kamarnya lagi. Siwon masih berdiri dibalkonnya. Menatap balkon kamar Yoona yang sudah tidak terdapat Yoona yang berdiri disana. Siwon mengedip-kedipkan matanya. Dia merasa baru saja tersadar atas apa yang diucapkannya tadi. Apalagi saat melihat wajah Yoona yang mendadak jadi sedih. Didalam lubuk hati Siwon dia merasa bersalah terhadap Yoona.

“Kenapa kau jadi memikirkan perasaannya?” tanya Siwon pada dirinya sendiri. Lalu dia tertawa kecil seperti meledeki dirinya sendiri. “kau hanya telah berkata jujur, itu saja.” tambah Siwon.

Dia mengacak-acak rambutnya. Lalu ikut berjalan masuk kedalam kamarnya. Kamar Yoona dan Siwon dibuat sengaja bersebelahan sesuai dengan permintaan Yoona pada Sang Jo sebelum pindah. Dengan alasan Yoona ingin mengakrabkan diri dengan anak Sang Jo satu-satunya.

 

Wajah sedih Yoona kembali menjadi wajah yang begitu dingin, dingin adalah dirinya yang asli. Yoona sudah tahu sejak awal dia menginjakan kakinya disini. Bahwa anak dan istri Sang Jo pasti tidak menerima kehadirannya dengan baik. Sama dengan dirinya yang masih tidak benar-benar bisa menerima kehadiran dan kebaikan yang ditawarkan Sang Jo pada nya. Tapi memang inilah yang Yoona harapkan. Dia tidak butuh penerimaan yang bagus atas kehadirannya. Karena cepat atau lambat dia memang akan membuat kekacauan dirumah ini. Jadi seperti ini juga sudah cukup dan awal yang bagus untuk memulai rencananya.

 

****

 

Setelah dipersilakan masuk oleh Yoona akhirnya Sang Jo membuka pintu kamar Yoona dan masuk kedalam kamar Yoona. Sang Jo tersenyum mendapati Yoona yang sedang duduk diatas kasur sambil memeluk boneka beruang besar. Sang Jo ikut duduk dipinggir kasur Yoona.

“Ajeossi ingin menanyakan sesuatu padamu.” Ucap Sang Jo tanpa basa-basi.

Yoona menaikan sebelah alisnya. “menanyakan apa?”

“Apa kau ingin berkuliah?”

Yoona terdiam. Lalu ingatannya kembali pada dirinya yang sudah berusia dua puluh tiga tahun tidak berkuliah. Yoona saat masih bersekolah dan masih berpacaran dengan kekasihnya pernah bercita-cita ingin berkuliah bersama dengan fakultas yang sama, Tapi setelah lulus sekolah, sang kekasih justru lebih memilih bekerja sebagai pelayan sebuah bar. Dan beralasan ingin berkuliah dengan biaya sendiri. Akhirnya Yoona memutuskan menunggu sampai kekasihnya mempunyai uang untuk biaya kuliah. Tapi ternyata setelah Ayah Yoona meninggal, kekasih Yoona malah meninggalkannya begitu saja, dan membuat Yoona tidak semangat untuk melanjutkan kepeguruan tinggi. Dan hanya hidup untuk mengurusi ibunya. Karena saat itu hanya sisa ibunya yang ia miliki.

“Yoona-ah.. bagaimana?” tanya Sang Jo sekali lagi. Karena belum mendapat jawaban dari Yoona.

Yoona menatap  wajah Sang Jo. “Aku ingin berkuliah. Tapi bisakah aku satu kampus dan satu fakultas dengan Siwon oppa. Juga berangkat kekampus bersama Siwon oppa?”

Sang Jo terdiam sejenak. Dia menatap wajah Yoona dengan pandangan menyelidik. “Memangnya kenapa?”

“Aku susah beradaptasi pada lingkungan baru. Aku ingin Siwon oppa yang akan membimbingku disana. Aku juga tidak bisa naik kendaraan umum juga tidak bisa mengendarai sendiri. Jadi aku ingin pulang pergi kuliah bersama Siwon oppa saja, bagaimana?”

Sang Jo tersenyum. Jadi itu alasan Yoona kenapa ingin satu kampus bahkan satu universitas yang sama dengan Siwon. “Kau yakin ingin berkuliah di Universitas Dongguk dan mengambil fakultas seni juga?” tanya Sang Jo untuk lebih memastikan.

Yoona memanggutkan kepalanya dengan pasti. “Aku juga tertarik dengan seni. Khususnya seni musik.”

“Wah? Jinja? Ternyata bakat Eomma mu menurun padamu. Baguslah kalau begitu. Aku akan membicarakan ini pada Siwon. Dan setelah semua selesai aku akan segera mengurus administrasi ke Universitas agar kau bisa segera berkuliah semester pertama tahun ini.”

Yoona meraih lengan Sang Jo. “Gomawo Ajeossi.”

Sang Jo hanya tersenyum sambil membelai-belai puncak kepala Yoona. “Ajeossi keluar dulu.”

“Iya.”

Sang Jo bangun dari duduknya berjalan menuju pintu kamar Yoona dan menghilang dibalik pintu. Senyum Yoona segera kembali menghilang. Tatapan matanya kosong menatap karpet bebulu pada lantai. Sebenarnya Yoona tidak membutuhkan kuliah. Tapi Yoona menerima tawaran ini untuk merasakan bagaimana kehidupan Siwon di kampus. Dia ingin tahu lebih seperti apa kebahagian yang Siwon rasakan selama ini. Dia tentu tidak akan membiarkan kebahagian itu hanya menjadi milik Siwon. Dia ingin kebahagian itu menjadi milikknya juga dan kepedihan yang pernah ia rasakan juga harus dirasakan oleh Siwon juga.

Yoona membating tubuhnya keatas kasur. Matanya terpejam sambil memeluk boneka beruang besar. Di angan-angan Yoona dia mulai memikirkan suatu rencana-rencana yang akan ia jalankan nanti.

 

***

 

Mwo– ??” Siwon membanting buku yang tadi sedang ia baca keatas meja belajarnya. “Yang benar saja. apakah tidak cukup hanya tinggal serumah sampai dia harus juga satu universitas juga satu fakultas dengan ku?” terlihat jelas sekali ketidak sukaan dan ketidak percayaan dari wajah Siwon.

Ayahnya baru saja mengatakan bahwa Yoona akan berkuliah di Universitas serta mengambil satu fakultas yang sama dengan Siwon. Tadinya saat Ayahnya masuk kedalam kamarnya. Siwon masih asik membaca buku sambil duduk menghadap meja belajarnya walaupun telingannya mendengarkan apa yang dikatakan ayahnya. Tapi begitu ayahnya mengatakan hal itu, Siwon benar-benar terkejut dibuatnya.

“Dia juga butuh hidup dilingkungan luar. Dan dia juga butuh pendidikan lebih.” Ucap Sang jo, agar Siwon bisa menerima keputusannya.

Abeoji -!!” Teriak Siwon frustasi.

Sang Jo terdiam mendengar teriakan anak semata wayangnya itu.

“Walaupun aku menolaknya, pasti Aboeji tetap akan membiarkannya berkuliah satu Universitas dengan ku. Seperti halnya aku dan eomma tidak pernah menyetujuinya tinggal disini, tapi Abeoji tetap membawanya pulang kerumah kita. “ ucap Siwon. “Seharusnya abeoji tak perlu menanyakan pendapatku.”

Sang Jo terdiam. Apa yang dikatakan Siwon memang benar. Sebenarnya jika seperti itu dia memang tidak perlu bertanya pendapat anaknya kalaupun akhirnya penolakan Siwon tetap tak berlaku. Tapi Sang Jo hanya ingin anak dan istrinya tahu apa rencana yang akan dia lakukan. Itu saja.

“Jadi kau setujukan jika Yoona satu Universitas dan fakultas denganmu? Dia juga akan pergi dan pulang kuliah bersamamu.” Tanya lagi Sang Jo yang nampak tidak peduli dengan kekesalan hati Si Won.

Siwon menghela napas berat. Dia bangun dari  kursinya berjalan kearah lemari pakaiannya.

“Dia anak sebatang kara. Setidaknya hanya kitalah yang akan menjadi keluarga barunya. Yang akan menolong dan memberikan kehidupan baru untuknya.”

Siwon tidak menanggapi ucapan Sang Jo. Dia mengambil mantel hitam tebal dari dalam lemarinya. Dan membuang gantungan bajunya sembarangan diatas kasur. Siwon mengambil kunci mobilnya juga yang ada diatas meja belajar.

“Kau mau kemana?” tanya Sang Jo.

“Aku pusing dengan keputasan Abeoji! Aku ingin mencari ketenangan sejenak.” Jawab Siwon langsung meninggalkan ayahnya sendirian didalam kamarnya.

Sang Jo membasuh mukanya dengan telapak tangan kanannya.  Dia sudah mengira sebelum dia bicarakan ini pada Siwon, kalau seperti inilah yang akan terjadi. Karena dia tahu sekali bagaimana sikap anaknya yang keras kepala itu. Siwon jika tidak menyukai sesuatu pasti akan tetap tidak suka dan lama untuk menjadikannya suka terhadap sesuatu kecuali ada hal yang menarik hatinya untuk menyukai sesuatu yang ia tidak suka.

Sang Jo keluar dari kamar putranya. Dia menatap pintu kamar Yoona yang bersebelahan dengan kamar Siwon.

“Maafkan Ajeossi, Karena Ajeossi hidupmu jadi sulit seperti ini. Ajeossi janji akan menebus semua kesalahan ajeossi kepadamu Yoona.” Ucap Sang Jo didalam hatinya. Dengan wajah yang terlihat sedih serta bersalah. Sang Jo melangkahkan kakinya menuruni anak tangga.

 

***

 

Siwon memacu mobil sportnya dijalan raya Gangnam yang cukup ramai, sebelah tangannya memijit-mijit keningnya yang jadi terasa pusing setelah melakukan perdebatan dengan ayahnya.  Siwon menatap lurus kejalan, tapi pikirannya tertuju pada yang lain lebih tepatnya kepada Yoona. Dia seperti mempunyai sepotong ingatan tentang Yoona yang terlupakan olehnya.

“Aku yakin sebelum abeojji membawa Yoona kerumah, aku pernah melihat dan mendengar nama itu, tapi dimana ya?”

Siwon terdiam.

“Ah.. kenapa aku harus memikirkannya? Itu tidak penting sama sekali.” Elak Siwon mengusir Yoona dari pikirannya, lagi pula dia sudah cukup dibuat pusing dan tidak nyaman dengan kehadiran Yoona didalam keluarganya.

Siwon memasangkan earphone ketelinga kirinya. Lalu menekan tombol pada ponselnya. Terdengar suara nada sambung dan tak lama terdengar ada suara yang menerima panggilan Siwon diseberang sana.

“Kau dimana? Di café biasa? Ya tunggu aku sebentar, aku akan kesana.. iya sendiri. Aku benar-benar pusing sekarang..ah, iya aku akan ceritakan nanti..”

Siwon memutuskan panggilannya dan melepas earphonenya. Dia membelokan mobilnya kekanan dengan cepat sampai terdengar decitan roda mobil yang bergesek pada aspal. Siwon meminggirkan mobilnya di sebuah café pinggir jalan. Dia melepas sabuk pengamannya dan keluar dari mobilnya dan berjalan masuk kedalam café tersebut.

Siwon celingukan mencari tiga orang temannya yang tadi salah satunya ia telepon dan mengatakan mereka ada di tempat ini. Siwon akhirnya menemukan temannya berada disudut café duduk membelakangi dirinya. Siwon berjalan menghampiri mereka. Siwon menarik kursi dan mendudukinya lalu meletakan kepalanya diatas meja. Siwon bersikap seolah-olah dia mempunyai begitu banyak beban yang berat.

“Ada apa denganmu? Apa kau baik-baik saja?” tanya SooYoung, satu-satunya cewek yang ada dimeja itu.

“Dia akhirnya benar-benar tinggal dirumah ku, sejak kemarin.” Jawab Siwon masih belum mengangkat kepalanya dari atas meja.

Ketiga temannya saling menatap bingung, mereka tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Siwon baru saja.

“Dia? Dia siapa?” tanya Kangin, lelaki yang bertubuh agak besar dan tinggi dari pada yang lainnya.

Sang Won akhirnya mengangkat kepalanya lalu menatap ketiga temannya yang juga sedang menatap dirinya. Masih menunggu jawaban dari Siwon. “Kalian tidak ingat semingu yang lalu aku pernah bercerita bahwa ayahku akan mengangkat seorang anak, seorang adik untuk ku?”

Ketiga temannya terdiam, mereka mencoba memikirkan ucapan Siwon dan mencoba mengingat-ingat hal tersebut.

“Ah.. iyaa aku ingat!” seru Yesung, lelaki tampan berkaca mata itu. “Jadi kau sekarang sudah mempunyai seorang adik kecil yang lucu? Wah pasti senang!” tambah Yesung.

Wajah Siwon langsung berubah aneh, mendengar ucapan Yesung. Tebakan Yesung salah besar!.

“Apanya yang lucu dan menyenangkan? Dia itu cewek yang usianya hanya beda dua tahun dariku. Dan sekarang hidup disamping kamar ku, dan kami harus berbagi lantai dua bersama.” Jelas Siwon, kesal.

Ketiga temannya melongo mendengar apa yang baru saja diucapkan Siwon. “Kau tidak sedang bercanda?” tanya Kangin tidak percaya.

Siwon tersenyum meledek. “Itulah kenyataannya.”

“Jadi Ayahmu mengangkat seorang anak perempuan yang sudah dewasa? Yang usianya hanya beda dua tahun darimu? Aneh sekali. Dia ada hubungan apa dengan ayahmu?” Tanya SooYoung penasaran.

“Entahlah aku tidak tahu banyak, yang aku tahu dia anak dari sahabat ayahku yang sudah meninggal.”

“Ouh begitu? Dia cantik tidak?” tanya Kyuhyun.

Siwon terdiam mendengar pertanyaan Kyuhyun. Tiba-tiba wajah Yoona terlintas dipikirannya. Memang harus diakui Yoona itu cukup cantik ditambah dengan postur tubuhnya yang mungil dan kulitnya yang bersih. Sebenarnya Siwon juga sempat terkejut saat hari dimana ayahnya membawa Yoona pulang kerumahnya. Saat Yoona tersenyum padanya, senyum itu juga sebenarnya menarik, tapi Siwon tidak suka dengan Yoona yang secara tidak sadar telah menggeser posisinya dirumah sebagai anak tunggal.

“Ya! Kenapa kau malah melamun?” tegur Kyuhyun sambil menepuk bahu Siwon.

Siwon tersadar dari lamunannya tentang Yoona. “Kalian nanti juga akan melihatnya. Dia akan berkuliah di kampus kita dan fakultas seni juga.”

“Benarkah?” pekik SooYoung.

Siwon memanggutkan kepalanya. “kita akan menjadi seniornya.”

Kangin tertawa kecil. “Lalu apakah Tiffany tahu tentang hal ini?”

Siwon menggeleng.

“Kau yakin, kekasihmu yang setengah gila itu tidak akan marah dan cemburu padamu?” tanya SooYoung.

Siwon menatap SooYoung. “Apa yang bisa dicemburukan? Aku dan Yoona itu kan akan menjadi adik kakak, dan aku benar-benar tidak tertarik dengan Yoona.”

“Ouh.. jadi namanya Yoona?” tanya KyuHyun. “Misalkan dia cantik kau bisa izinkan aku menyukainya ya?” tambah KyuHyun seperti tidak punya dosa bicara seperti itu.

“Ya!!” teriak Sooyoung dan Kangin bersamaan. Kyuhyun hanya mengengir lebar.

Siwon kembali merundukan kepalanya diatas meja. Tidak ada yang bisa mengerti dan mengeringakan sedikit keresahan hatinya. Rasanya ia ingin marah sambil menangis tapi tidak bisa. Dia juga tidak tahu alasan apa yang membuatnya ingin sekali marah dan menangis. Ini semua pasti karena kehadiran Yoona. Sial! Umpat Siwon didalam hatinya sambil mengebrak meja dan membuat teman-temannya serta pengunjung lain menatapnya dengan tabjub.

 

                        ****

 

Step 1 : semenjak kau datang kekehidupanku, keluargaku tidak pernah mendapatkan ketenangan, selalu merasa gelisah dan merasa ingin marah sambil menangis. Kami seperti orang bodo, kami saling menatap dan tersenyum satu sama lain seperti tidak sedang terjadi apapun, seperti semua akan baik-baik saja. seluruh hidup kami lewati dengan perasaan canggung dan bersalah, kami tahu bahwa ada sesuatu yang menyusup kedalam kehidupan kami, tapi kami malah menjaga rahasia itu, bahkan sampai Ayah dan Ibuku meninggal mereka tetap setia menjadi semua rahasia itu. Hari ini aku tidak akan diam sampai matipun tidak akan diam seperti kedua orangtuaku. Sekarang aku akan membuat keluarga ini menjadi canggung dan penuh rasa bersalah satu sama lain. bagaimana rasanya? Untuk tahu rasanya kau juga pasti akan memendamnya. Tenang aku tetap akan tenang dan menjadi anak manis didepanmu.

 

_ January, Gangnam – Im Yoona_

 

 

**** To Be Continue ***

 

Note : Maaf kalau nemu nama lain seperti Yoon Ji atau Sang Won ya ^^ karena tadinya ini sebuah fiksi yang aku buat udah lama dan belum rapi, jadi aku edit lagi deh karena terobsesi sama Drama Korea InnocentMan dan Secret Love, ini hanya ide ceritanya jadi tapi isi cerita beda sekali dengan kedua drama itu. Oke Thanks For Reading See You!!

Advertisements

162 comments on “FF – Winter in Gangnam ( Sequel – Part.1 )

  1. Emang apa yg udah di lakuin appa siwon ke keluarga yoona sampe yoona pengen bales dendam ke.keluarga siwon apalagi ke siwon n eommanya yg gak tau apa”..
    Makin penasaran sama.kelanjutan ceritanya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s